Depresi merupakan penyebab kedua terbesar disabilitas di seluruh dunia, setelah sakit punggung

Penyakit tersebut harus ditangani sebagai prioritas kesehatan masyarakat global, kata ahli dalam jurnal PLOS Medicine.

Penelitian membandingkan depresi klinis dengan lebih dari 200 penyakit lain dan cedera yang menyebabkan disabilitas.

Secara global, hanya sebagian kecil pasien yang mendapatkan akses pengobatan, seperti disampaikan Badan Kesehatan Dunia WHO.

Meski depresi dapat menyebabkan disabilitas, tetapi dampaknya berbeda-beda di sejumlah negara dan wilayah. Sebagai contoh, jumlah terbesar kasus depresi terjadi di Afghanistan dan terendah di Jepang.

Dr Alize Ferrari dari School of Population Health University of Queensland yang memimpin studi.

“Depresi merupakan sebuah masalah utama dan kami benar-benar harus memberikan perhatian lebih dibandingkan yang sekarang,” kata dia kepada BBC News.

“Masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan untuk meningkatkan kepedulian terhadap penyakit dan juga penanganannya.

“Beban antara negara berbeda, jadi cenderung lebih tinggi di negara dengan pendapatan rendah dan menengah, dan lebih rendah di negara dengan pendapatan tinggi.”

Pemerintah telah berupaya membuat kebijakan untuk mengatasi masalah depresi, tetapi masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan, kata dia.

“Kita tahu masih ada stigma mengenai kesehatan mental,” jelas dia.

WHO beberapa waktu lalu meluncurkan rencana aksi untuk meningkatkan kepedulian mengenai kesehatan mental diantara pembuat kebijakan.

sumber : http://www.bbc.co.uk/indonesia/majalah/2013/11/131105_kesehatan_depresi.shtml

ToT Reviewer: Jejaring Reviewer dan Sistem Review Nasional

Versi Cetak Versi PDF Versi RTF Versi Word

ToT ReviewerDirektorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM) Universitas Indonesia (UI) dan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Brawijaya (UB) menyelenggarakan Training of Trainers (ToT) Reviewer. Kegiatan ini dalam rangka Pembentukan Jejaring Reviewer dan Sistem Review Nasional.

Kasubdit Riset dan Inkubator Industri DRPM UI Dr.rer.nat. Yasman mengatakan, kegiatan ini untuk menyamakan persepsi reviewer di Indonesia agar terjalin keserasian dalam sistem review nasional.

Kegiatan ini diisi dengan materi “Tugas, Peran dan Eligibilitas Reviewer Penelitian di Indonesia yang disampaikan oleh Prof. Dr. Ir. Keppi Sukesi, MS., dan materi Etika dan Kode Etik Reviewer Penelitian di Indonesia oleh Prof. Dr. Sutrisno T, S.E, M.Si, Ak.

Tugas reviewer menurut Prof. Keppi yaitu menelaah isi substansi ilmiah proposal penelitian sesuai dengan skim yang diajukan dan format skim penelitian serta persyaratan yang telah ditentukan berdasarkan kompetensi yang dimiliki. Sedangkan peran reviewer adalah membina integritas para peneliti untuk meningkatkan kompetensi meneliti dan mampu bersaing memenangkan Hibah penelitian secara kompetitif.

“Kriteria reviewer internal perguruan tinggi diantaranya mempunyai tanggung jawab, berintegritas, memenuhi kode etik reviewer, sanggup melaksanakan tugas-tugas sebagai reviewer penelitian, berpendidikan doktor, mempunyai jabatan fungsional serendah-rendahnya lektor, serta berpengalaman dalam bidang penelitian,” papar Prof. Keppi.

Ia mengatakan, penelitian unggulan perguruan tinggi bertujuan untuk mensinergikan penelitian di PT dengan kebijakan dan program pembangunan lokal/nasional/internasional melalui pemanfaatan kepakaran PT, sarana dan prasarana dan atau sumber daya setempat. “Diharapkan luaran penelitian unggulan PT harus terukur dalam kurun waktu tertentu, misalnya produk teknologi langsung dapat dimanfaatkan oleh stake holder,” katanya.

Sementara itu Prof. Sutrisno menjelaskan, ilmuwan Indonesia dituntut untuk memelihara integritas dan berkiprah sesuai kompetensinya, bersikap objektif, tidak berpihak, menghormati sesama ilmuwan, dan menjauhi plagiasi dan penyimpangan ilmiah yang lain.

Ia menekankan bahwa plagiarisme merupakan perbuatan amoral karena mengambil sesuatu yang bukan haknya. “Saat ini sudah ada sanksinya dan cukup berat, untuk itu peneliti harus berhati-hati,” tegasnya.

Ia menjelaskan, seorang reviewer perlu memiliki pikiran terbuka terhadap perkembangan dan informasi baru yang mungkin bertentangan dengan pendapat umum, sehingga perlu berpikir dua kali sebelum meloloskan atau menolak proposal.

Kewajiban reviewer diantaranya memiliki komitmen dan kemauan keras untuk mengupayakan peningkatan mutu proses, produk, status pengembangan, penguasaan, pemanfaatan pengetahuan, ilmu, teknologi, dan seni, dapat menyadiakan waktu khusus untuk kegiatan review. “Reviewer yang melanggar kewajiban akan dicabut haknya sebagai reviewer,” pungkas Prof. Sutrisno. [irene]

sumber : http://prasetya.ub.ac.id/berita/ToT-Reviewer-Jejaring-Reviewer-dan-Sistem-Review-Nasional-14137-id.html

Kesehatan: Alkohol bukan solusi stres

Hampir dua pertiga orang mengandalkan alkohol untuk bersantai di malam hari, kata lembaga amal Drinkaware.

Jajak pendapat terhadap lebih dari 2.000 orang berusia antara 30-45 yang dilaksanakan oleh ICM menemukan bahwa 44% minum, dan sepertiga berpikir untuk minum bahkan sebelum mereka sampai ke rumah.

Stres dan masalah di kantor menjadi alasan paling umum untuk minum.

Pakar dari Drinkaware memperingatkan bahwa alkohol bisa tampak seperti pereda stres, namun seringkali justru membuat situasi semakin buruk.

Sepertiga lelaki yang minum di rumah, dan hampir separuh perempuan, mengatakan mereka minum di atas batas harian, tiga atau empat unit alkohol untuk lelaki dan dua hingga tiga untuk perempuan.

Sebagian besar, 68%, memastikan mereka punya persediaan alkohol di rumah, dan 71% mengatakan membeli alkohol sebagai bagian belanja grosir mingguan.

Sepertiga duduk di depan televisi sesudah makan malam dan minum gelas pertama mereka, sedangkan seperempat minum saat makan malam.

Masalah ‘menyelinap’

Siobhan McCCann, kepala kampanye dan komunikasi di Drinkaware, mengatakan, “Alkohol dapat menjadi ‘teman palsu’ ketika anda berusaha mengatasi stres.

“Meski pun beberapa gelas minuman tampak seolah dapat meredakan tekanan hari ini, dalam jangka menengah hingga panjang hal itu justru dapat menambah masalah, apakah itu pekerjaan, keuangan atau masalah keluarga.

“Stres juga dapat menjadi alasan orang minum lebih banyak dari yang seharusnya, terutama jika mereka tidak menyadari dampak negatif terhadap kesehatan.”

Emily Robinson, direktur kampanye untuk lembaga amal Alcohol Concern mengatakan, “Banyak orang menggunakan alkohol untuk bersantai tetapi hal ini dapat mendatangkan lebih banyak masalah.

“Walau pun alkohol dapat membuat anda mengantuk dan mengurangi waktu yang dibutuhkan untuk jatuh terlelap, kualitas tidur terkadang sangat buruk.

“Alkohol juga faktor pencetus depresi sehingga perasaan gelisah semakin buruk akibat minum dan mengakibatkan orang merasa lebih stres.

Ia menambahkan, “Yang lebih mengkhawatirkan adalah minum di rumah secara teratur dapat menjadi kebiasaan dan membawa pada berbagai masalah kesehatan yang bisa menyelinap pada seseorang serta menjadikan kecanduan.

“Salah satu temuan riset adalah orang minum sesudah pulang kantor, sehingga atasan harus melakukan lebih banyak hal untuk mengurangi stres di kantor.

“Atasan harus melakukan tugas mereka dan tidak secara aktif mempromosikan budaya minum-minum usai pulang kantor yang dapat memicu kebiasaan minum lebih banyak alkohol di rumah.”

sumber : http://www.bbc.co.uk/indonesia/majalah/2012/07/120706_alcoholfacts.shtml

10 Mitos Tidak Benar Tentang Penyebab FLU, Demam, Batuk dan Pilek

FLU , DEMAM, BATUK DAN PILEK TERJADI HANYA BILA TERDAPAT KONTAK DENGAN PENDERITA FLU, BUKAN KARENA HAL YANG LAINNYA YANG SELAMA INI SERING DIDUGA

Saat mengantar berobat ke dokter anak karena anaknya mengalami batuk, demam dan pilek, para orang tua selalu  selalu mengatakan : ” Biasa dok, anak saya sakit karena makan gorengan!”, Atau “Dok, anak saya sakit karena kemaren kebanyakan minum ES”. Hal lain yang sering dijadikan alasan penyebab sakit flu, demam, batuk atau pilek karena kecapekan, kena hujan, kena angin, kena debu, naik sepeda motor, kena kipas angin atau karena di rumah sedang membangun.

Ternyata alasan yang dikemukan orang  tersebut adalah tidak benar sebagai penyebab atau bukan penyebab langsung sakit infeksi batuk, pilek dan demam yang di alami anaknya. Banyak yang meyakini bahwa sakitnya yang diderita selama ini karena hal tersebut. Padahal bila dicermati penularan penyakit yang utama adalah terjadi kontak sumber penularan dan  ada kontak yang sakit di sekitarnya 1-2 hari sebelumnya. Faktor  daya tahan tubuh juga menjadi faktor penting, karena meskipun ada kontak manusia bisa terhindar dari flu atau paling tidak gejalanya ringan yang pernah kita sadari. Bila tidak ada kontak dan sumber penularan flu tidak akan terjadi. karena virus tersebut tidak akan beterbangan di udara bebas yang luas, seperti di jalan, di udara luas dan tertipup angin dengan jarak yang jauh.

FLU, Influenza atau infeksi Saluran napas lainnya

Influenza, biasa disebut sebagai flu atau penyakit infeksi saluran napas karena virus lainnya , merupakan penyakit menular yang disebabkan terutama oleh virus RNA dari keluarga Orthomyxoviridae yang mempengaruhi burung dan mamalia. Nama influenza berasal dari Italia: influenza, yang berarti “mempengaruhi” (Latin: influentia). Gejala umum penyakit ini adalah badan terasa panas dingin, demam, sakit tenggorokan, nyeri otot, sakit kepala parah, batuk, kelemahan dan rasa tidak nyaman. Gejala yang paling serng terjadi adalah demam dan batuk. Dalam kasus lebih serius, influenza menyebabkan radang paru-paru, yang dapat menimbulkan kematian, khususnya bagi kaum muda dan orang tua.

Cara Penularan

Biasanya, influenza ditularkan melalui udara atau droplet infection  oleh batuk atau bersin, menciptakan udara di sekitarnya yang mengandung virus. Influenza juga dapat ditularkan melalui kotoran burung, air liur, nasal secretions (ingus), kotoran dan darah. Infeksi juga terjadi melalui kontak dengan cairan tubuh penderita muisal ingus penderita dapat berpindah ke orang lain melalui salaman tangan , memegang gelas yang sama atau berenang. . Udara yang tercemar virus ini dianggap bisa menyebabkan infeksi kebanyakan, walaupun demikian, cara penularan dari udara ke tubuh masih belum jelas. Virus influenza dapat menjadi tidak aktif/mati oleh sinar matahari, disinfectan dan deterjen. Virus dapat juga dibunuh oleh sabun; sering mencuci tangan mengurangi risiko infeksi.

Kita tidak pernah menyadari bahwa tertular infeksi saluran napas tersebut karena adanya kontak di sekitar penderita. Sering tidak disadari bahwa manusia dewasa juga sering mengalami sakit terkena virus Flu atau Infeksi virus lainnya tetapi tidak disadari. Namun pada beberapa orang dewasa bila terkena gejala sangat ringan dan sering dikira masuk angin, kecapekan atau panas dalam. Keluhan infeksi virus pada orang tua yang dapat menularkan pada anak adalah salah satu di antara  nyeri kepala, badan pegal dan linu, nyeri tenggorokan. Bila pada orang dewasa dengan daya tahan bagus hanya berlangsung dalam 1-2 hari. Hal ini sering dianggap “mau flu ngga jadi”.  Sakit infeksi virus tersebut bisa juga karena tertular bila banyak kontak dengan banyak orang seperti di mall, masjid, gereja, ruangan kantor, di bus, berpapasan dan kontak dengan penderita dengan penderita flu

MITOS TIDAK BENAR  TENTANG PENYEBAB KETULARAN FLU, DEMAM, BATUK DAN PILEK

  1. Karena Cuaca dan Perubahan Musim
  2. Karena Makan Gorengan atau makan krupuk
  3. Karena Hujan
  4. Karena Masuk Angin, kipas Angin atau naik Sepeda motor
  5. Karena Kecapekan dan Kurang Tidur
  6. Karena Naik Sepeda Motor
  7. Karena Minum Es
  8. Karena Panas Dalam
  9. Udara Dingin, Berenang atau AC
  10. Kena Debu Rumah, Debu bangunan atau Bulu Binatang

Berbagai Faktor tersebut dapat memperberat tetapi bukan penyebab utamaan penyebab utama. Jadi minum dingin, udara dingin, kecapekan, hujan, cuaca, masuk angin, kena kipas angin hanya memperberat bukan menjadi penyebab utama.

Kalaupun ada faktor debu, dingin, minum es pada penderita alergi hanya menjadi keluhan batuk sesaat dan sebentar akan membaik dalam beberapa jam kemudian.  Hal ini disebabkan karena alergi bukan virus.

Karena, infeksi saluran napas harus ada sumber penularan kontak yang terkena infeksi. Misalnya minum es memang akan memperberat batuk, dan pilek yang terjadi. Pada penderita alergi kadangkala bukan hanya es, tetapi kandungan es yang ada seperti es jeruk atau es coklat bisa menjadi penyebab alergi batuk.

Bila terdapat faktor tersebut di atas tetapi tidak ada kontak yang sakit flu atau virus maka tidak akan terjadi atau tertular infeksi tersebut

FLU, BATUK DAN PILEK AKAN TERTULAR HANYA BILA TERJADI KONTAK DENGAN PENDERITA FLU.

(Meski kadang beberapa penderita flu ringan sering seperti gejala masuk angin, kecapekan atau seperti mau flu ngga jadi )

Pencegahan Flu, Batuk Dan Pilek

  1. Peningkatan higiena, sanitasi dan perilaku hidup bersih diri sendiri.
  2. Vaksin biasa digunakan untuk influenza pada permulaan flu musiman
  3. Perilaku utama yang dapat mencegah penyebaran virus influaenza adalah melakukan cuci tangan sesering mungkin. Mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir beberapa kali dalam sehari. Keringkan tangan setelah dicuci. Jika tidak ada air, bisa menggunakan bahan pencuci tangan dari alkohol.
  4. Pemakaian masker paling tidak dapat mengurangi resiko penularan melalui udara.
  5. Bila sedang tidak enak badan seperti sakit kepala, badan capek, sakit tenggorokan atau mual sebaiknya menghindari kontak dengan bayi atau anak untuk mencegah penularannya kecuali pada ibu menyusui hal tersebut dapat dilakukan dengan memakai masker.

sumber : http://growupclinic.com/2012/03/25/10-mitos-tidak-benar-penyebab-flu-demam-batuk-dan-pilek/

Mahasiswa UB Wakili Indonesia dalam Ajang AFLES 2013, Hat Yai, Thailand

Versi Cetak Versi PDF Versi RTF Versi Word
Penampilan Delegasi UB dalam AFLES 2013Mahasiswa Universitas Brawijaya (UB), Tedy Agvita Qurota A’yun dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) dan Muhammad Farayunanda dari Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) menjadi bagian dari wakil Indonesia dalam ajang ASEAN Youth Forum Summit (AFLES) 2013. Kegiatan ini diselenggarakan pada Senin-Minggu (21-27/10) lalu di Penang, Malaysia dan Hat Yai, Thailand.

AFLES 2013 diikuti oleh seratus pemimpin muda terpilih dari seluruh Asia dari total pendaftar lebih dari 7500 orang dari 153 universitas di 25 negara. Delegasi terpilih terdiri atas pemimpin mahasiswa, pengusaha muda, dan tokoh masyarakat dari perguruan tinggi ternama di negara-negara ASEAN.

Salah satu kegiatan dalam AFLES 2013 adalah mengunjungi dua desa di Thailand Selatan. Disini, para delegasi melakukan reboisasi dengan melibatkan masyarakat provinsi Phattalung di Thailand dan menanam lebih dari seribu bibit pohon di hutan Pa Bon, Phattalung, Thailand. Selain itu, delegasi juga mengunjungi Ta Hin, Desa Sathing Pra Distrik sebagai bagian dari studi kasus pembangunan ekonomi untuk mempelajari pemberdayaan desa melalui pemanfaatan dan pengembangan produk dari pohon aren yang didukung oleh Prince of Songkla University untuk standarisasi dan pengawasan kualitas produk. Delegasi juga mengunjungi desa Pak Ro di Singha Nakhon District dan belajar berbagai proses pengembangan makanan manis dari sumber daya lokal .

Menurut Nanda, AFLES 2013 tidak hanya sebuah bentuk pembelajaran bagi delegasi AFLES 2013. “Kegiatan ini dimaksudkan untuk mendorong delegasi untuk melanjutkan upaya menyebarkan informasi setelah mereka kembali ke negara masing-masing” ujarnya. Para delegasi yang dibagi dalam sepuluh kelompok ini juga diberi kesempatan untuk memberikan rekomendasi terhadap pengembangan Ta Hin Village dan desa Pak Ro’. “Pemenang presentasi mencakup strategi dan rekomendasi untuk memberdayakan warga melalui pendidikan, penjualan produk sebagai souvenir untuk wisatawan pada pameran dan harga masyarakat di Thailand serta pengembangan kehadiran online yang kuat untuk penjualan produk “, imbuh Vita. [vicky]

Sumber : http://prasetya.ub.ac.id/berita/Mahasiswa-UB-Wakili-Indonesia-dalam-Ajang-AFLES-2013-Hat-Yai-Thailand-14136-id.html

 

PERAN POCT DALAM KEGAWATDARURATAN

“Emergency Departements” (ED) atau disebut juga Instalasi Gawat Darurat (IGD) memiliki arus pasien yang tinggi dengan berbagai macam kondisi dan mengharuskan pelayanan cepat untuk pindah ruangan, yang sangat penting untuk mencegah penumpukan pasien. Untuk mengurangi waktu tinggal, di setiap langkah dari saat pasien masuk sampai ke luar IGD harus benar-benar optimal, termasuk mengurangi waktu tunggu hasil laboratorium.

Definisi POCT adalah pemeriksaan laboratorium yang dilakukan di dekat pasien di luar laboratorium sentral, baik pasien rawat jalan maupun pasien rawat inap. Menurut kriteria dari CLIA (Clinical Laboratory Improvement Amendement), POCT pada umumnya dibagi menjadi 2 kategori berdasarkan kompleksitasnya yaitu “waive” dan “non-waive”. Yang dimaksud dengan waive test adalah pemeriksaan non kritis yang disetujui oleh FDA untuk penggunaan di rumah, menggunakan metode yang sederhana dan cukup akurat serta tidak beresiko untuk membahayakan pasien bila hasil pemeriksaan tidak tepat. Sedangkan non-waive test adalah pemeriksaan yang cukup kompleks di mana pemeriksaan yang dilakukan membutuhkan pengetahuan minimal teknologi dan pelatihan untuk menghasilkan pemeriksaan yang akurat, langkah-langkah pengoperasian secara otomatis dapat dengan mudah dikontrol dan membutuhkan interpretasi minimal. Nama lain POCT adalah “near patient testing”, “patient self testing”, “rapid testing”, atau “bedsite testing”.

Pemeriksaan yang seringkali menggunakan metode POCT adalah pemeriksaan  kadar gula darah, HbA1c, gas darah, kadar elektrolit, marker jantung, marker sepsis, urine dipstik, koagulasi (PT / INR),  Hemoglobin darah, tes kehamilan dan ovulasi. Keuntungan penggunaan POCT yang utama adalah kecepatan. Meskipun POCT di rumah sudah banyak digunakan, 70 % POCT terletak di rumah sakit, ruang praktek dokter, dan lokasi lain-lain, dan segmen ini diperkirakan akan bertumbuh sekitar 15,5 % per tahun, terutama untuk penggunaan di rumah.

Klinisi dari IGD seringkali menghendaki efisiensi dalam menghadapi kebutuhan perkembangan pelayanan kesehatan kegawatdaruratan. Rencana pemberian terapi seringkali tergantung pada hasil laboratorium. POCT dianggap sebagai teknologi yang dapat melayani kebutuhan tersebut dengan akurat dan penurunan TAT (turn arround time) sebesar 50 %. “Modernising Pathology Services” merupakan istilah di mana pihak laboratorium menerima POCT untuk pelayanan kesehatan yang lebih baik. Dengan layanan jaringan yang baik, di mana POCT dapat terhubung dengan Instalasi Laboratorium Sentral, serta pengawasan kontrol dan kalibrasi yang baik, maka POCT mendapat peranan dalam pasar teknologi diagnostik, bahkan dapat digunakan oleh pasien di rumah maupun komunitas di luar laboratorium.

Korban bencana berisiko untuk mengalami acute myocardial infarctions (AMI), acute kidney injury (AKI), dan sepsis. Pemeriksaan biomarker jantung, fungsi ginjal, dan deteksi bakteri patogen secara cepat seringkali tidak didapatkan selama penanganan bencana. Reagen biomarker jantung membutuhkan penyimpanan dalam suhu lemari es; pemeriksaan fungsi ginjal tradisional (kreatinin) memiliki sensitifitas yang buruk untuk prediksi AKI pada pasien-pasien kritis, dan deteksi bakteri patogen dengan kultur terlalu lambat untuk menolong pemberian terapi antimikroba secara dini. Tiga kondisi tersebut memerlukan pemeriksaan POCT interkoneksi antara IGD, penanganan bencana, dan UPI.

POCT di rumah sakit memiliki beberapa keuntungan,antara lain hasil yang diperoleh lebih cepat, sehingga mempercepat perawatan dan meningkatkan kepuasan pasien, lebih murah, kepuasan dokter sering lebih tinggi karena tidak harus menunggu hasil pemeriksaan laboratorium. Tetapi karena POCT kurang presisi daripada pemeriksaan yang dilakukan menggunakan alat standar di laboratorium, hasilnya kadang-kadang harus tetap diverifikasi, sehingga menambah biaya.

POCT yang digunakan harus memenuhi TQA (Total Quality Assurance). Dokter Patologi Klinik harus supervisi terhadap semua alat POCT yang ada di lingkungan rumah sakit tempatnya bekerja. Adanya komite POCT di rumah sakit sangat penting untuk mengelola POCT di rumah sakit. Komite ini hendaknya berkompetensi di bidang laboratorium, selalu berkoordinasi dengan laboratorium sentral, serta dipimpin oleh dokter spesialis patologi klinik.

Pemeriksaan di laboratorium Point-of-care tests (POCT)
• Merupakan standar baku emas dan lebih akurat. • Kurang akurat.
• Diawasi penuh oleh penanggung jawab laboratorium (dokter patologi klinik). • Diawasi oleh dokter di ruangan / klinik.
• Dikerjakan oleh analis. • Pada umumnya dikerjakan oleh perawat.
• Menggunakan alat yang mahal dan canggih. • Menggunakan alat sederhana dan lebih murah.
• Fokus pada akurasi, mutu, dan waktu hasil. • Fokus pada alur kerja, pengurangan kesalahan dan kecepatan hasil.

 

Penyebab ketidakakuratan hasil pemeriksaan menggunakan alat POCT antara lain operator yang tidak kompeten dan berpengalaman, petugas tidak mematuhi prosedur penggunaan alat, menggunakan reagen yang tidak mempunyai bahan kontrol, kurangnya supervisi, tidak melakukan pemantapan mutu.

Untuk menjamin mutu hasil pemeriksaan POCT maka harus dibentuk Komite POCT rumah sakit yang memiliki tugas  melakukan koordinasi pelatihan personil baru, memilih metode pemeriksaan, memonitor kontrol mutu dan program profisiensi, serta menentukan tempat meletakkan alat POCT tersebut. Kepala perawat dalam hal ini memiliki tugas mengatur jadwal petugas baru untuk mendapatkan pelatihan dan sertifikasi personil, serta mengatur jadwal evaluasi rutin kompetensi petugas POCT. Bagian pendidikan dan pelatihan rumah sakit memiliki tugas memberikan pelatihan petugas baru dan memberikan sertifikasi personil. Sedangkan staf laboratorium memiliki tugas memberikan pelatihan kepada petugas baru, menilai data kontrol mutu, dan mem-verifikasi fungsi peralatan dan perawatan alat tersebut.

Jaminan mutu meliputi pra analitik yaitu mulai identifikasi pasien dengan benar, persiapan pasien dan alat, analitik,  sampai paska analitik yaitu keluarnya hasil pemeriksaan. Dalam jaminan mutu didapatkan 2 komponen, yaitu kontrol mutu internal dan penilaian mutu eksternal. Kontrol mutu internal adalah menganalisis bahan kontrol oleh pengguna alat POCT sebelum melakukan pemeriksaan pada pasien untuk menjamin bahwa alat tersebut dapat menghasilkan hasil pemeriksaan yang akurat. Sedangkan penilaian mutu eksternal adalah analisa sampel yang tidak diketahui nilainya dan berasal dari sumber eksternal. Sampel penilaian mutu eksternal didistribusikan oleh Departemen Patologi Klinik kepada semua alat POCT.

sumber : http://flebotomi-malang.com/?cat=12

Pengembangan Obat Malaria dan TBC Tertinggal

Dari 850 obat dan vaksin baru yang disetujui untuk semua penyakit selama dekade terakhir, hanya 37 yang diperuntukkan bagi apa yang disebut penyakit terabaikan: malaria, TBC, chagas, penyakit tidur dan berbagai penyakit lain terkait kemiskinan.

Sebuah studi baru yang diterbitkan dalam Jurnal  Kesehatan Global Lancet menyoroti apa yang oleh penulisnya disebut “ketidakseimbangan fatal” dalam riset dan pengembangan pengobatan bagi pasien termiskin di dunia.

Penyakit terabaikan – terutama lazim di negara-negara miskin – mencakup lebih dari 11 persen beban penyakit global, dan merupakan penyebab utama kematian, cacat kronis, dan kemiskinan.

Dalam meneliti kemajuan terbaru untuk memerangi penyakit ini, kalangan periset dari Inisiatif Obat untuk Penyakit Terabaikan, Doctors Without Borders, dan organisasi-organisasi medis lainnya mendapati hanya segelintir uji klinis yang sedang dilakukan atau dalam pengembangan.

Para penulis laporan itu mengakui bahwa perusahaan-perusahaan farmasi dan bioteknologi tidak mendapat banyak insentif finansial untuk menginvestasikan dana litbang dalam menemukan obat-obatan bagi berbagai penyakit terabaikan, dan mengacu pada kegagalan kebijakan publik untuk mendorong mereka.

Tim periset itu menyimpulkan, “Meskipun ada perhatian politik yang besar terhadap beban penyakit terabaikan, kami mendeteksi tidak ada bukti peningkatan substansial dalam kegiatan penelitian dan pengembangan dibandingkan dengan dekade-dekade sebelumnya.”

sumber : http://www.voaindonesia.com/content/pengembangan-obat-malaria-tbc-tertinggal/1776600.html