Senyawa Beragam Tumbuhan Bunuh Sel Kanker Payudara

Tim periset pada Louisiana State University (LSU) melaporkan, senyawa beragam yang ditemukan secara alami pada tumbuhan telah membunuh semua sel kanker payudara dalam studi mereka, tanpa efek samping beracun pada sel-sel normal.

Tim LSU itu menguji enam nutrisi kimia pelindung dari kunyit, kacang kedelai, brokoli, anggur dan teh. Secara tersendiri, senyawa-senyawa itu tidak mempan melawan kanker. Tetapi secara gabungan, semua senyawa itu menekan pertumbuhan sel kanker payudara dalam laboratorium sebanyak lebih 80 persen, dan kelak memicu proses yang mengakibatkan kematian sel.

Langkah berikutnya adalah mengetahui apakah semua senyawa itu mampu mencegah pembentukan dan pertumbuhan tumor pada tikus.

Dr. Madhwa Raj, yang memimpin studi itu yang dimuat dalam Journal of Cancer, mengemukakan bahwa semua bahan dalam senyawa beragam itu berasal dari makanan yang disantap orang saban hari, tetapi dengan kadar lebih tinggi daripada yang mungkin bisa mereka dapat dari makanan sehari-hari.

Karena benar-benar percaya senyawa beragam itu mampu membantu perempuan sekarang, Dr. Raj telah mendirikan perusahaan bio-tech untuk memasarkan semua senyawa yang dijuluki super koktail, sebagai suplemen gizi bagi kesehatan payudara, yang tidak membutuhkan izin Badan Pengawas Pangan dan Obat Amerika.

sumber : http://www.voaindonesia.com/content/senyawa-tumbuhan-bunuh-sel-kanker-payudara/1796156.html

Makan Kacang, Hidup Lebih Panjang

Peneliti menemukan mereka yang mengkonsumsi segenggam kacang setiap hari mengurangsi risiko kematian dari segala macam penyakit dibandingkan mereka yang tidak mengkonsumsinya.

Studi baru itu menyimpulkan bahwa ini berlaku bagi segala macam kacang. Baik itu kacang tanah, atau kacang-kacang lainnya seperti kacang almond, kacang Brazil, hazelnut, kenari atau kacang mete.

Mereka yang makan kacang setidaknya lima kali setiap minggunya lebih sehat dan hidup lebih lama dibanding mereka yang tidak makan kacang secara teratur.

Peneliti di balik studi ini, Ying Bao, dari Fakultas Kedokteran di RS Brigham & Women’s dan Fakultas Kedokteran Harvard University di Boston, Massachusetts

Ia dan rekan-rekannya meneliti dampak konsumsi kacang dengan menganalisa dua studi yang dimulai di 1980, yang melacak kondisi lebih dari 76.000 perempuan, dan satunya lagi, yang memantau kesehatan 42.000 laki-laki dalam sebuah studi lanjutan.

Di antara pertanyaan yang diajukan pada awal studi adalah, “Seberapa sering Anda mengkonsumsi kacang-kacangan?” Informasi tersebut diperbarui setiap 2-4 tahun. Bao mengatakan, para responden dipantau selama tiga dasawarsa.

“Yang kita cermati adalah bahwa mereka yang makan lebih banyak kacang-kacangan memiliki risiko kematian yang lebih rendah untuk 30 tahun ke depan,” ujar Bao. “Jadi, sebagai contoh, bila seseorang mengkonsumsi kacang-kacangan sekali sehari, orang tersebut memiliki 20 persen risiko kematian lebih rendah.”

Bao mengatakan konsumsi segenggam kacang lima kali atau lebih per minggu mengurangi 29 persen risiko kematian yang dari penyakit jantung dan 11 persen risiko kematian akibat kanker. Ukuran untuk satu porsi atau segenggam kacang adalah 28 gram.

Studi-studi sebelumnya menghubungkan konsumsi kacang dengan menurunnya risiko diabetes tipe 2, kanker usus besar, batu empedu dan diverticulitis atau peradangan dalam usus besar.

Kacang-kacangan mengandung nutrisi, termasuk protein berkualitas tinggi, vitamin, mineral dan fitokimia, yang semuanya memiliki khasiat anti-peradangan dan efek anti-kanker serta bermanfaat bagi kesehatan jantung.

Bao mengatakan para peneliti berencana untuk mempelajari lebih lanjut bagaimana kacang-kacangan baik bagi kesehatan.

“Mekanisme biologis persisnya belum jelas saat ini. Langkah selanjutnya adalah untuk melihat kaitan antara konsumsi kacang dan berbagai macam biomarker,” katanya.

sumber : http://www.voaindonesia.com/content/makan-kacang-hidup-lebih-panjang/1795250.html

Cara Cerdas Otak Melawan Stres

Saat dalam keadaan sulit, otak memiliki kemampuan untuk melawan balik kesulitan tersebut. Sebuah temuan baru dalam jurnal Neuroscience mengungkap bagaimana otak beradaptasi dengan stresor yang dapat berdampak pada kesehatan.

Allayson Friedman, peneliti dari Mount Sinai School of Medicine mengatakan, jika tidak hati-hati, ketegangan  dengan orang lain dapat menyebabkan rasa kalah yang memicu depresi dan tindakan antisosial. Beruntung, otak memiliki respon cepat pada tekanan tersebut, seperti mengeluarkan senyawa otak tertentu untuk mengatasi pemulihannya.

Berikut tujuh stresor sosial terburuk dan bagaimana otak secara cerdas mengatasinya.

1. Ditinggal teman

Peneltiian para ahli dari Oxford University mengindikasikan, jaringan pertemanan yang luas membentuk otak yang lebih besar dan kemampuannya untuk mengambil keputusan dan mengontrol aksi pun menjadi lebih baik. Namun bukannya tidak mungkin manusia berada dalam  keadaan tanpa banyak teman sehingga dapat memicu penurunan kemampuan bersosialisasi dan ukuran otak.

Namun menurut peneliti studi Maryann Noonan, otak memiliki kemampuan untuk beradaptasi. Untuk mengoptimalkannya, Anda perlu berusaha merangsangnya, salah satunya dengan menciptakan obrolan dengan orang-orang di lingkungan sekitar.

2. Perubahan kerja atau tempat tinggal

Dalam kondisi ini, Anda belum terbiasa dengan lingkungan baru. Namun otak sebenarnya dalam keadaan lebih rileks dalam melakukan penyesuaian diri sehingga dampaknya baik untuk kesehatan. Studi yang dilakukan oleh peneliti asal Princeton University menunjukkan, tikus yang diperkenalkan dalam lingkungan baru cenderung lebih tenang dibandingkan dengan tikus yang sudah lama berada di lingkungan tersebut.

3. Naik pangkat

Keadaan ini mungkin membahagiakan, namun di sisi lain juga dapat meningkatkan kadar stres. Kesibukan yang bertambah memicu isolasi diri dari lingkungan. Padahal hal tersebut berkaitan dengan peningkatan risiko penyakit jantung koroner, diabetes tipe 2, obesitas, dan penyakit degeneratif lainnya.

Untuk meningkatkan kemampuan adaptasi otak, maka Anda perlu menjaga hubungan dengan orang lain. Dengan begitu, otak akan lebih cepat mengeluarkan dopamin, senyawa dalam otak yang penting untuk merespon stres.

4. Kehilangan dukungan

Minimnya dukungan dari lingkungan dapat memicu banyak masalah kesehatan. Studi dari Tel Aviv University menunjukkan, orang yang tidak mendapatkan dukungan dari rekan kerja cenderung lebih pendek umurnya dibandingkan mereka yang berada dalam lingkungan kerja yang mendukung.

Turunkan ego dan mulailah fokus untuk mencari manfaat jika Anda dan rekan kerja Anda dapat bekerja sama. Studi mengindikasikan, kelompok kera yang bekerja sama mencetak skor yang lebih baik daripada kelompok lainnya yang bekerja sendiri-sendiri. Ini karena sel-sel otak lebih dapat mengenali perilaku kera lainnya saat bekerja sama.

5. Kehilangan

Studi para ahli di Perancis membuktikan, saat berada dalam kondisi ini, Anda akan merasa takut dan cemas. Fokus terhadap pekerjaan mungkin dapat membantu melawan pikiran negatif. Menurut kajian ilmuwan dari Harvard University, meningkatkan intensitas pekerjaan akan mengalihkan perhatian otak yang membantu memulihkan rasa kehilangan tersebut.

sumber : http://health.kompas.com/read/2013/11/25/1307245/Begini.Cara.Cerdas.Otak.Melawan.Stres

Bila Anak Susah Makan

Tak sedikit orang tua yang kerepotan menghadapi anaknya yang mengalami masalah makan. Berikut ini beberapa problem yang sering dialami dan bagaimana cara penanganannya :

-Makan diemut

Beberapa kemungkinan penyebabnya adalah karena anak mengalami sariawan, sakit gigi, atau radang tenggorokan. Selain itu, kemungkinan mengalami kelainan sensorik pada mulut, gangguan sistem pencernaan, atau merasa bosan dengan makanan yang disajikan.

Untuk penangannnya, hindari memaksa anak mengunyah atau menelan. Berikan penjelasan bahwa makanan yang masuk ke mulut haurs dikunyah lalu ditelan. Beri makanan dalam suapan kecil, sajikan menu bervariasi, dengan penyajian menarik dan menggugah selera. Tak kalang penting, hindari makanan dengan rasa dan bau menyengat yang dapat memicu rasa mual.

-Menolak makan

Beberapa anak menolak makan karena diduga sebelumnya mengalami kejadian trauma yang terkait dengan rasa, tekstur, bau atau penampilan makanan. Dalam hal ini, anak memiliki sensitivitas berlebihan terhadap rasa dan aroma makanan.

Adapun penanganan yang bisa dilakukan diantaranya member contoh kebiasaan makan sehat. Kemudian, ciptakan waktu makan tanpa ada gangguan misalnya mematikan teve.   Selanjutnya berikan variasi makanan untuk menambah wawasan dan memberi pilihan berbagai makanan baru.

Yang jelas, pastikan anak mendapat asupan zat gizi dan kalori harian yang cukup. Untuk anak, beri makanan dalam porsi kecil tapi sering. Hindari terlalu banyak minuman manis karena menurunkan nafsu makan. Sediakan makanan yang menggugah selera dengan tampilan yang menarik.

-Pilih-pilih makanan

Pemilih makanan atau picky eater yaitu kebiasaan hanya mau makan itu-itu saja. Hal ini terjadi karena anak sedang belajar mengunyah, sedang sakit, sedang mengembangkan selera makan, atau karena menu yang disajikan kurang variatif dan tak menggugah selera.

Sebagai solusi, coba kenalkan kenalkan jenis makan variatif pada anak sesuai tahap keterampilan makan. Tak perlu memaksa atau menghukum bila ia menolak makan. Sajikan makanan dengan menarik, menggugah selera, dengan peralatan makan dan minum yang lucu serta hiasan makanan. Manfaat waktu makan bersama untuk menjelaskan manfaat aneka jenis makanan bagi tubuh. Terakhir, ciptakan suasana makan yang menyenangkan.

-Alergi makanan

Ada beberapa penyebab alergi makanan di antaranya karena sistem pencernaan belum matang. Pada sistem pencernaan yang matang, terdapat selaput usus dan gerak peristaltik usus yang berfungsi melindungi dan menghalangi alergen masuk tubuh. Pada sistem pencernaan belum matang sistem pelindung itu belum berfungsi.

Beberapa gangguan kesehatan sering dikaitkan dengan alergi, misal penyakit asma, daya tahan tubuh menurun dan faktor psikologis. Alergi juga bisa dipengaruhi factor genetik.

Untuk penanganannya, cari faktor penyebab melalui tes alergi, misal tes kulit. Hindari makanan allergen atau pemicu alergi. Bila alergi disebabkan faktor keturunan, rujuk pada jenis makanan yagn dihindari orangtua. Ciptakan suasana makan menyenangkan, riset membuktikan, hati gembira meningkatkan sistem kekebalan tubuh.

Selain hal di atas, hal lain yang perlu diperhatikan adalah selalu memantau berat badan (BB) secara teratur. Hal ini diperlukan karena berat badan menggambarkan perubahan konsumsi makanan atau gangguan kesehatan. Bahkan pada anak bayi dan balita, indikator BB/U (berat badan menurut umur) menandakan status gizi di masa sekarang.

sumber : http://health.kompas.com/read/2013/11/18/1211087/Bila.Anak.Susah.Makan

WHO Canangkan Penemuan Vaksin Malaria sebelum 2030

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan mitra-mitranya hari Kamis mengumumkan tujuan baru untuk menemukan vaksin berlisensi sebelum tahun 2030 yang akan mengurangi kasus malaria secara tajam dan pada akhirnya menghilangkan penyakit itu.

Peta Jalan Teknologi Vaksin Malaria 2013 diresmikan di Washington. Peta jalan ini memperluas ruang lingkup riset vaksin, menyerukan vaksin yang dapat mengurangi kasus malaria sampai 75 persen dan yang cocok digunakan di semua daerah endemik. Malaria berdampak di hampir 100 negara dan wilayah, terutama di sub – Sahara Afrika.

Dr. Vasee Moorthy dari Departemen Imunisasi dan Vaksin WHO mengatakan, “Data terbaru WHO memperkirakan ada 660.000 kematian setiap tahun. Atau sekitar 2.000 kematian terjadi setiap hari karena malaria. Sebagian besar kematian itu terjadi pada anak-anak balita di Afrika, tetapi ada juga kematian di beberapa bagian di Amerika, Timur Tengah dan Asia. Dan dalam hal jumlah kasus, kematian tersebut disebabkan oleh sekitar 219 juta kasus malaria.”

Meskipun masih belum ada vaksin malaria yang berlisensi, sejumlah kemajuan telah dicapai dalam mengurangi kasusnya. Kemajuan ini berkat diagnosis yang lebih baik, obat-obatan, kelambu berinsektisida dan pengendalian populasi nyamuk, yang membawa parasit malaria.

“Kami melihat 26 persen pengurangan angka kematian karena malaria secara global dalam satu dasawarsa terakhir. Jika kita bisa berhasil mengembangkan vaksin malaria, itu bisa melengkapi berbagai langkah pengendalian malaria ini,” tambah Moorthy.

Selanjutnya Dr. Moorthy mengatakan Peta Jalan Teknologi Vaksin Malaria 2013 ini merupakan pengembangan dari peta jalan awal yang diungkap tahun 2006.

“Targetnya sekarang lebih ambisius – peta jalan ini sekarang diperluas untuk mencakup Plasmodium vivax serta falciparum. Jadi falciparum adalah bentuk malaria yang menyebabkan sebagian besar kematian, tapi vivax tidak disertakan sebelumnya,” ungkap Moorthy.

Ada 27 kandidat vaksin malaria dalam percobaan klinis. Kandidat yang paling canggih, RTS, S/AS01, sedang dalam uji coba tahap III. Hasilnya akan diketahui pada tahun 2015, lalu akan ditinjau dari segi regulasi.

Peta Jalan Teknologi Vaksin Malaria adalah upaya kolaborasi yang dipimpin oleh WHO, bersama dengan Amerika dan Eropa dan lembaga pemerintah, donor, pengembang dan LSM.

sumber : http://www.voaindonesia.com/content/who-cangkan-vaksin-malaria-sebelum-2030/1793619.html

Korban Tewas Akibat Flu Burung di Indonesia Capai 163

Seorang perempuan Indonesia berumur 31 tahun meninggal dunia karena flu burung, menambah jumlah korban tewas karena penyakit ini menjadi 163, menurut Kementerian Kesehatan pada Senin (18/11).

Ibu rumah tangga dari Bekasi Timur itu meninggal minggu lalu karena virus flu burung H5N1, menurut laman Kementerian.

Sebuah investigasi dari Kementerian tersebut menemukan bahwa perempuan itu, yang pertama menghadapi gejala-gejala demam dan mual pada 1 November, diperkirakan melakukan kontak dengan unggas di sekitar rumahnya.

Perempuan tersebut meninggal pada 11 November saat hendak dipindahkan ke rumah sakit khusus yang menangani flu burung.

Ia merupakan korban tewas ketiga di Indonesia tahun ini akibat virus tersebut. Dua korban pertama adalah anak laki-laki berusia dua tahun dan pria berusia 28 tahun, yang meninggal pada Juni dan September tahun ini di Bekasi.

Sebanyak 195 orang telah sakit akibat flu burung di Indonesia sejak 2005. Flu burung biasanya meningkat pada musim yang lebih dingin.

Di seluruh dunia sduah ada 646 kasus H5N1 yang sudah dikonfirmasi sejak 2003, 60 persen diantaranya fatal.

sumber : http://www.voaindonesia.com/content/korban-tewas-flu-burung-di-indonesia-capai-163/1792939.html

Gadget, “Bom Waktu” Kesehatan Anak

Waspadalah, anak-anak menghadapi “bom waktu” kesehatan yang bisa meledak kapan saja. Peringatan ini dikeluarkan peneliti terkait masifnya penggunaan gadget di kalangan anak akhir-akhir ini. Penggunaan gadget dilaporkan menimbulkan sakit leher dan punggung anak.

Di Inggris, sedikitnya tiga dari empat anak usia sekolah dasar dan dua dari tiga anak usia sekolah menengah dilaporkan menderita sakit di leher dan punggung setiap tahunnya. Hasil ini tentu mengundang tanya, apakah penggunaan smartphone, tablet, dan game console mengganggu kesehatan anak?

Riset ini diprakarsai Abertawe Bro Morgannwg University (ABMU) Health Board, setelah jumlah anak yang dirawat akibat sakit leher dan tulang punggung meningkat dua kali lipat hanya dalam waktu enam bulan.

Dalam risetnya, peneliti menemukan, 64 persen dari 204 responden anak berusia 7-18 tahun, menderita sakit punggung. Namun, hampir 90 persen tidak mengatakan kepada siapa pun terkait sakit yang diderita. Sementara itu, 72 persen anak usia sekolah dasar mengakui mengalami sakit punggung.

Menurut fisioterapis, Lorna Taylor, keadaan ini merupakan dampak negatif peningkatan penggunaan teknologi dan perubahan gaya hidup.

“Gadget, bagaimanapun telah merugikan perkembangan kesehatan otot dan tulang anak. Bila tidak diubah sedini mungkin, baik di rumah atau sekolah, akan sangat sulit mengatasi dampak ini bagi anak yang masih memiliki masa depan yang panjang,” ujarnya.

Menurut Taylor, tidak baik bila anak terus menderita sakit dan perkembangannya terbatas akibat gangguan yang sebetulnya bisa dicegah. Akan lebih baik bila anak bisa hidup nyaman, memiliki kebiasaan baik, mampu berkonsentrasi, mengembangkan potensi, serta bebas belajar dan bermain tanpa batasan sakit.

Riset yang dilakukan ABMU, bukan satu-satunya yang membuktikan buruknya gaya hidup tidak aktif atau sedentary bagi anak. Riset yang dilakukan British Chiropractic Association membuktikan, 45 persen anak menderita sakit tulang punggung saat berusia 11 tahun.

“Memang ada banyak kelebihan dari perkembangan dunia dan teknologi. Namun dampak buruknya, kita jadi terpisah dengan keperluan menggunakan dan melatih tubuh setiap hari. Kita bahkan tidak perlu bergerak untuk membuktikan keberadaan,” kata kepala riset lembaga nirlaba BackCare, Adam al-Kash, pada Daily Telegraph.

Publikasi hasil riset ABMU bersamaan dengan peluncuran e-learning yang disebut Healthy Working MOVE. Sistem ini mengajari anak memperbaiki postur tubuh, dan menggunakan teknologi dengan benar dan aman.

sumber : http://health.kompas.com/read/2013/11/16/0942202/Gadget.Bom.Waktu.Kesehatan.Anak