Faktor Umur Diperdebatkan dalam Pencangkokan Jantung

Usia hanyalah salah satu faktor penting yang dipertimbangkan dokter dalam pencangkokan jantung, tetapi bukan satu-satunya faktor.

Mantan Wakil Presiden Amerika Dick Cheney terus dalam pemulihan setelah menjalani bedah transplantasi jantung tanggal 24 Maret – pada usia 71 tahun. Bedah tersebut telah memicu perdebatan publik mengenai apakah orang seusia Cheney terlalu tua untuk menjalani  pencangkokan jantung. Wartawan VOA Carol Pearson melaporkan usia hanyalah salah satu faktor yang dipertimbangkan oleh dokter untuk menentukan siapa yang boleh mendapatkan jantung baru.

Dick Cheney memiliki sejarah gangguan jantung. Dia mendapat serangan jantung pertamanya ketika baru berusia 37 tahun. Dia mengalami empat serangan lagi selama 30 tahun berikutnya. Jantungnya begitu berpenyakit sehingga dokter menggantinya dengan pompa jantung mekanik sekitar dua tahun lalu. Setahun lalu, ia menunjukkan pompa jantung tersebut ke stasiun ABC News.

“Lebih dari setahun yang lalu saya mengalami gagal jantung stadium akhir. Jantung saya tidak memompa cukup darah ke ginjal, hati dan organ-organ tubuh lainnya,”demikian ungkap Dick Cheney.

Sebelum seseorang dianggap memenuhi syarat untuk menerima pencangkokan jantung, ia harus terdiagnosis dengan penyakit jantung stadium akhir.

Dr. Samer Najjar mengawasi pencangkokan jantung di Rumah Sakit MedStar Washington. Dia mengatakan sejumlah faktor membantu dokter memutuskan siapa yang boleh mendapat jantung baru.

Dr. Samer mengatakan, “Kami melihat semua sistem organ lain dalam tubuh. Jika organ-organ lain itu sehat, kemudian dokter melihat faktor-faktor lainnya.” Selanjutnya, ia mengatakan, “Kami ingin tahu seperti apa kepatuhan pasien, jenis dukungan sosial apa yang mereka miliki, apakah mereka akan minum obat secara teratur, akankah mereka mengikuti petunjuk? Faktor-faktor ini sangat penting dalam transplantasi jantung.”

Pada usia 71 tahun, Cheney adalah salah  pasien tertua yang mendapatkan jantung baru.

Dr. Samer manyatakan , “Umur merupakan salah satu faktor, faktor yang sangat penting, tetapi bukan satu-satunya faktor.”

Menurutnya data menunjukkan bahwa pasien yang lebih tua, pada pertengahan enam puluhan, kondisinya baik setelah menjalani pencangkokan  jantung. Hampir 75 persen diantaranya masih hidup lima tahun setelah menjalani prosedur itu dan hampir separuhnya bertahan hidup selama 10 tahun setelah menjalani pencangkokan.

Jika organ-organ lain dari pasien yang lebih tua berfungsi dengan baik, dokter mempertimbangkan usia fisiologis pasien sebagai faktor yang lebih menentukan dibanding usia kronologis. Jaringan Serikat Donor Organ Tubuh mengelola sistem transplantasi nasional untuk pemerintah Amerika. Mereka melaporkan bahwa jumlah donor jantung kepada warga berusia lanjut terus meningkat selama lebih dari 20 tahun.

sumber : http://www.voaindonesia.com/content/faktor_umur_dalam_pencangkokan_jantung_/111130.html

Nilai Normal Laboratorium

Setiap laboratorium menentukan nilai ‘normal’, yang ditunjukkan pada kolom ‘Nilai Rujukan’ atau ‘Nilai Normal’ pada laporan laboratorium. Nilai ini tergantung pada alat yang dipakai dan cara pemakaiannya. Tidak ada standar nilai rujukan, Nilai Normal Laboratorium ini saya ambil dari webnya dr arief. nilai laboratorium lain dapat berbeda. Jadi angka pada laporan kita harus dibandingkan dengan nilai rujukan pada laporan, bukan dengan nilai rujukan pada lembaran ini. Bahaslah hasil yang tidak normal dengan dokter.

Determination

Normal Reference Value

Conventional units

SI units

Blood, Plasma or Serum

Ammonia (NH3) – diffusion

20-120 mcg/dl

12-70 mcmol/L

Ammonia Nitrogen

15-45 µg/dl

11-32 µmol/L

Amylase

35-118 IU/L

0.58-1.97 mckat/L

Anion gap (Na+-[Cl - + HCO3- ]) (P)

7-16 mEq/L

7-16 mmol/L

Antithrombin III (AT III)

80–120 U/dl

800–1200 U/L

Bicarbonate

Arterial

21–28 mEq/L

21–28 mmol/L

Venous

22–29 mEq/L

22–29 mmol/L

Bilirubin

Conjugated (direct) Total

£ 0.2 mg/dl
&
0.1–1 mg/dl

£ 4 mcmol/L
&
2–18 mcmol/L

Calcitonin

< 100 pg/ml

< 100 ng/L

Calcium

Total

8.6–10.3 mg/dl

2.2–2.74 mmol/L

Ionized

4.4–5.1 mg/dl

1–1.3 mmol/L

Carbon dioxide content (plasma)

21–32 mmol/L

21–32 mmol/L

Carcinoembryonic antigen

< 3 ng/ml

< 3 mcg/L

Chloride

95–110 mEq/L

95–110 mmol/L

Coagulation screen

Bleeding time

3–9.5 min

180–570 sec

Prothrombin time

10–13 sec

10–13 sec

Partial thromboplastin time (activated)

22–37 sec

22–37 sec

Protein C

0.7–1.4 µ/ml

700–1400 U/ml

Protein S

0.7–1.4 µ/ml

700–1400 U/ml

Copper, total

70–160 mcg/dl

11–25 mcmol/L

Corticotropin (ACTH adrenocorticotropic hormone) – 0800 hr

< 60 pg/ml

< 13.2 pmol/L

Cortisol

0800 hr

5–30 mcg/dl

138–810 nmol/L

1800 hr

2–15 mcg/dl

50–410 nmol/L

2000 hr

£ 50% of 0800 hr

£ 50% of 0800 hr

Creatine kinase

Female

20–170 IU/L

0.33–2.83 mckat/L

Male

30–220 IU/L

0.5–3.67 mckat/L

Creatinine kinase isoenzymes, MB fraction

0–12 IU/L

0–0.2 mckat/L

Creatinine

0.5–1.7 mg/dl

44–150 mcmol/L

Fibrinogen (coagulation factor I)

150–360 mg/dl

1.5–3.6 g/L

Follicle-stimulating hormone (FSH)

Female

2–13 mlU/ml

2–13 IU/L

Midcycle

5–22 mlU/ml

5–22 IU/L

Male

1–8 mlU/ml

1–8 IU/L

Glucose, fasting

65–115 mg/dl

3.6–6.3 mmol/L

Glucose Tolerance Test (Oral)

(mg/dl)

(mmol/L)

Normal

Diabetic

Normal

Diabetic

Fasting

70–105

> 140

3.9–5.8

> 7.8

60 min

120–170

³ 200

6.7–9.4

³ 11.1

90 min

100–140

³ 200

5.6–7.8

³ 11.1

120 min

70–120

³ 140

3.9–6.7

³ 7.8

(g) – Glutamyltransferase (GGT)

Male

9–50 units/L

9–50 units/L

Female

8–40 units/L

8–40 units/L

Haptoglobin

44–303 mg/dl

0.44–3.03 g/L

Hematologic Tests

Fibrinogen

200–400 mg/dl

2–4 g/L

Hematocrit (Hct)

female

36%-44.6%

0.36–0.446 fraction of 1

male

40.7%-50.3%

0.4–0.503 fraction of 1

Hemoglobin A 1C

5.3%-7.5% of total Hgb

0.053–0.075

Hemoglobin (Hb)

female

12.1–15.3 g/dl

121–153 g/L

male

13.8–17.5 g/dl

138–175 g/L

Leukocyte count (WBC)

3800–9800/mcl

3.8–9.8 x 109/L

Erythrocyte count (RBC)

female

3.5–5 x 106/mcl

3.5–5 x 1012/L

male

4.3–5.9 x 106/mcl

4.3–5.9 x 1012/L

Mean corpuscular volume (MCV)

80–97.6 mcm3

80–97.6 fl

Mean corpuscular hemoglobin (MCH)

27–33 pg/cell

1.66–2.09 fmol/cell

Mean corpuscular hemoglobin concentrate (MCHC)

33–36 g/dl

20.3–22 mmol/L

Erythrocyte sedimentation rate (sedrate, ESR)

£30 mm/hr

£30 mm/hr

Erythrocyte enzymes

Glucose-6 – Pphosphate dehydrognase (G-6-PD)

250–5000 units/106 cells

250–5000 mcunits/cell

Determination

Reference Value

(Conventional units)

(SI units)

Blood, Plasma or Serum:

Ammonia (NH3) – diffusion

20–120 mcg/dl

12–70 mcmol/L

Ammonia Nitrogen

15–45 µg/dl

11–32 µmol/L

Amylase

35–118 IU/L

0.58–1.97 mckat/L

Anion gap (Na+-[Cl - + HCO3-]) (P)

7–16 mEq/L

7–16 mmol/L

Antithrombin III (AT III)

80–120 U/dl

800–1200 U/L

Bicarbonate:

Arterial

Venous

21–28 mEq/L
22–29 mEq/L

21–28 mmol/L

22–29 mmol/L

Bilirubin: Conjugated (direct) Total

£ 0.2 mg/dl
(0.1–1 mg/dl)

£ 4 mcmol/L
(2–18 mcmol/L)

Calcitonin

< 100 pg/ml

< 100 ng/L

Calcium:

Total

Ionized

8.6–10.3 mg/dl

4.4–5.1 mg/dl

2.2–2.74 mmol/L

1–1.3 mmol/L

Carbon dioxide content (plasma)

21–32 mmol/L

21–32 mmol/L

Carcinoembryonic antigen

< 3 ng/ml

< 3 mcg/L

Chloride

95–110 mEq/L

95–110 mmol/L

Coagulation screen:

Bleeding time
Prothrombin time

Partial thromboplastin time (activated)

Protein C

Protein S

3–9.5 min

10–13 sec

22–37 sec

0.7–1.4 µ/ml

0.7–1.4 µ/ml

180–570 sec

10–13 sec

22–37 sec

700–1400 U/ml

700–1400 U/ml

Copper, total

70–160 mcg/dl

11–25 mcmol/L

Corticotropin
(ACTH adrenocorticotropic hormone) – 0800 hr

< 60 pg/ml

< 13.2 pmol/L

Cortisol:

0800 hr

1800 hr

2000 hr

5–30 mcg/dl
2–15 mcg/dl

£ 50% of 0800 hr

138–810 nmol/L

50–410 nmol/L

£ 50% of 0800 hr

Creatine kinase:

Female

Male

20–170 IU/L

30–220 IU/L

0.33–2.83 mckat/L
0.5–3.67 mckat/L

Creatinine kinase isoenzymes, MB fraction

0–12 IU/L

0–0.2 mckat/L

Creatinine

0.5–1.7 mg/dl

44–150 mcmol/L

Fibrinogen (coagulation factor I)

150–360 mg/dl

1.5–3.6 g/L

Follicle-stimulating hormone (FSH):

Female

Midcycle

Male

2–13 mlU/ml

5–22 mlU/ml
1–8 mlU/ml

2–13 IU/L

5–22 IU/L

1–8 IU/L

Glucose, fasting

65–115 mg/dl

3.6–6.3 mmol/L

Glucose Tolerance Test (Oral)

Fasting

60 min
90 min

120 min

(mg/dl)

Normal

Diabetic

70–105

> 140

120–170

³ 200

100–140

³ 200

70–120

³ 140

(mmol/L)

Normal

Diabetic

3.9–5.8

> 7.8

6.7–9.4

³ 11.1

5.6–7.8

³ 11.1

3.9–6.7

³ 7.8

(g) -Glutamyltransferase (GGT):

Male

Female

9–50 units/L
8–40 units/L

9–50 units/L

8–40 units/L

Haptoglobin

44–303 mg/dl

0.44–3.03 g/L

Determination

Reference Value

Conventional units

SI units

Hematologic tests:

Fibrinogen

Hematocrit (Hct),
female

male

Hemoglobin A 1C

Hemoglobin (Hb),
female

male

Leukocyte count (WBC)
Erythrocyte count (RBC):
female

male

Mean corpuscular volume (MCV)

Mean corpuscular hemoglobin
(MCH)

Mean corpuscular hemoglobin

concentrate (MCHC)

Erythrocyte sedimentation rate

(sedrate, ESR)

200–400 mg/dl

36%-44.6%

40.7%-50.3%

5.3%-7.5% of total Hgb

12.1–15.3 g/dl

13.8–17.5 g/dl

3800–9800/mcl

3.5–5 x 106/mcl

4.3–5.9 x 106/mcl

80–97.6 mcm3

27–33 pg/cell

33–36 g/dl

£30 mm/hr

2–4 g/L

0.36–0.446 fraction of 1

0.4–0.503 fraction of 1

0.053–0.075

121–153 g/L

138–175 g/L

3.8–9.8 x 109/L

3.5–5 x 1012/L

4.3–5.9 x 1012/L

80–97.6 fl

1.66–2.09 fmol/cell

20.3–22 mmol/L

£ 30 mm/hr

Erythrocyte enzymes:

Glucose-6 -
Pphosphate dehydrognase

(G-6-PD)

Ferritin

Folic acid: normal

Platelet count

Reticulocytes

Vitamin B12

250–5000 units/106 cells

10–383 ng/ml

>3.1–12.4 ng/ml

150–450 x 103/mcl

0.5%-1.5% of erythrocytes

223–1132 pg/ml

250–5000 mcunits/cell

23–862 pmol/L

7–28.1 nmol/L

150–450 x 109/L

0.005–0.015

165–835 pmol/L

Iron:

Female

Male

30–160 mcg/dl

45–160 mcg/dl

5.4–31.3 mcmol/L

8.1–31.3 mcmol/L

Iron binding capacity

220–420 mcg/dl

39.4–75.2 mcmol/L

Isocitrate dehydrogenase

1.2–7 units/L

1.2–7 units/L

Isoenzymes

Fraction 1

Fraction 2

Fraction 3

Fraction 4

Fraction 5

14%-26% of total

29%-39% of total

20%-26% of total

8%-16% of total

6%-16% of total

0.14–0.26 fraction of total

0.29–0.39 fraction of total
0.20–0.26 fraction of total

0.08–0.16 fraction of total

0.06–0.16 fraction of total

Lactate dehydrogenase

100–250 IU/L

1.67–4.17 mckat/L

Lactic acid (lactate)

6–19 mg/dl

0.7–2.1 mmol/L

Lead

£ 50 mcg/dl

£ 2.41 mcmol/L

Lipase

10–150 units/L

10–150 units/L

Lipids:

Total Cholesterol

Desirable

Borderline-high

High

LDL

Desirable

Borderline-high

High

HDL (low)

Triglycerides

Desirable

Borderline-high

High

Very high

< 200 mg/dl

200–239 mg/dl

> 239 mg/dl

< 130 mg/dl

130–159 mg/dl

> 159 mg/dl

< 35 mg/dl

< 200 mg/dl

200–400 mg/dl

400–1000 mg/dl

> 1000 mg/dl

< 5.2 mmol/L

< 5.2–6.2 mmol/L

> 6.2 mmol/L

< 3.36 mmol/L

3.36–4.11 mmol/L

> 4.11 mmol/L

< 0.91 mmol/L

< 2.26 mmol/L

2.26–4.52 mmol/L

4.52–11.3 mmol/L

> 11.3 mmol/L

Magnesium

1.3–2.2 mEq/L

0.65–1.1 mmol/L

Osmolality

280–300 mOsm/kg

280–300 mmol/kg

Oxygen saturation (arterial)

94%-100%

0.94 – fraction of 1

PCO2, arterial

35–45 mm Hg

4.7–6 kPa

pH, arterial

7.35–7.45

7.35–7.45

Determination

Reference Value

Conventional units

SI units

PO, arterial: Breathing room air

On 100% O

80–105 mm Hg

> 500 mm Hg

10.6–14 kPa

Phosphatase (acid), total at 37°C

0.13–0.63 IU/L

2.2–10.5 IU/L or

2.2–10.5 mckat/L

Phosphatase alkaline

20–130 IU/L

20–130 IU/L or

0.33–2.17 mckat/L

Phosphorus, inorganic, (phosphate)

2.5–5 mg/dl

0.8–1.6 mmol/L

Potassium

3.5–5 mEq/L

3.5–5 mmol/L

Progesterone

Female

Follicular phase

Luteal phase

Male

0.1–1.5 ng/ml

0.1–1.5 ng/ml
2.5–28 ng/ml

< 0.5 ng/ml

0.32–4.8 nmol/L

0.32–4.8 nmol/L

8–89 nmol/L

< 1.6 nmol/L

Prolactin

1.4–24.2 ng/ml

1.4–24.2 mcg/L

Prostate specific antigen

Protein: Total
Albumin

Globulin

0–4 ng/ml

6–8 g/dl

3.6–5 g/dl

2.3–3.5 g/dl

0–4 ng/ml
60–80 g/L

36–50 g/L

23–35 g/L

Rheumatoid factor

< 60 IU/ml

< 60 kIU/L

Sodium

135–147 mEq/L

135–147 mmol/L

Testosterone:
Female

Male

6–86 ng/dl

270–1070 ng/dl

0.21–3 nmol/L

9.3–37 nmol/L

Thyroid Hormone Function Tests:

Thyroid-stimulating hormone (TSH)

Thyroxine-binding globulin capacity

Total triiodothyronine (T3)

Total thyroxine by RIA (T4)
T3 resin uptake

0.35–6.2 mcU/ml

10–26 mcg/dl

75–220 ng/dl

4–11 mcg/dl
25%-38%

0.35–6.2 mU/L

100–260 mcg/L

1.2–3.4 nmol/L

51–142 nmol/L

0.25–0.38 fraction of 1

Transaminase, AST (aspartate aminotransferase, SGOT)

11–47 IU/L

0.18–0.78 mckat/L

Transaminase, ALT (alanine aminotransferase, SGPT)

7–53 IU/L

0.12–0.88 mckat/L

Transferrin

220–400 mg/dL

2.20–4.00 g/L

Urea nitrogen (BUN)

8–25 mg/dl

2.9–8.9 mmol/L

Uric acid

3–8 mg/dl

179–476 mcmol/L

Vitamin A (retinol)

15–60 mcg/dl

0.52–2.09 mcmol/L

Zinc

50–150 mcg/dl

7.7–23 mcmol/L

1 Tergantung pada usia

2 Bayi dan anak sampai 104 U/L

3 Bayi usia 1 tahun sampai 6 mg/dl

Urine

Determination

Reference Value

Conventional units

SI units

Calcium

50–250 mcg/day

1.25–6.25 mmol/day

Catecholamines:

Epinephrine

Norepinephrine

< 20 mcg/day

< 100 mcg/day

< 109 nmol/day

< 590 nmol/day

Catecholamines, 24-hr

< 110 µg

< 650 nmol

Copper

15–60 mcg/day

0.24–0.95 mcmol/day

Creatinine:

Child

Adolescent

Female
Male

8–22 mg/kg

8–30 mg/kg

0.6–1.5 g/day

0.8–1.8 g/day

71–195 µmol/kg
71–265 µmol/kg

5.3–13.3 mmol/day

7.1–15.9 mmol/day

pH

4.5–8

4.5–8

Phosphate

0.9–1.3 g/day

29–42 mmol/day

Potassium

25–100 mEq/day

25–100 mmol/day

Protein

Total

At rest

1–14 mg/dL

50–80 mg/day

10–140 mg/L

50–80 mg/day

Protein, quantitative

< 150 mg/day

< 0.15 g/day

Sodium

100–250 mEq/day

100–250 mmol/day

Specific gravity, random

1.002–1.030

1.002–1.030

Uric acid, 24-hr

250–750 mg

1.48–4.43 mmol

1 Tergantung pada diet.

Drug Levels*

Drug Determination

Reference Value

Conventional units

SI units

Aminoglycosides

Amikacin

(trough)

(peak)

1–8 mcg/ml

1.7–13.7 mcmol/L

20–30 mcg/ml
34–51 mcmol/L

Gentamicin

(trough)

(peak)

0.5–2 mcg/ml

6–10 mcg/ml

1–4.2 mcmol/L

12.5–20.9 mcmol/L

Kanamycin

(trough)

(peak)

5–10 mcg/ml
20–25 mcg/ml

nd

nd

Netilimicin

(trough)

(peak)

0.5–2 mcg/ml
6–10 mcg/ml

nd

nd

Streptomycin

(trough)

(peak)

< 5 mcg/ml
5–20 mcg/ml

nd

nd

Tobramycin

(trough)

(peak)

0.5–2 mcg/ml
5–20 mcg/ml

1.1–4.3 mcmol/L

12.8–21.8 mcmol/L

Drug Determination

Reference Value

Conventional units

SI units

Antiarrhythmics

Amiodarone

0.5–2.5 mcg/ml

1.5–4 mcmol/L

Bretylium

0.5–1.5 mcg/ml

nd

Digitoxin

9–25 mcg/L

11.8–32.8 nmol/L

Digoxin

0.8–2 ng/ml

0.9–2.5 nmol/L

Disopyramide

2–8 mcg/ml

6–18 mcmol/L

Flecainide

0.2–1 mcg/ml

nd

Lidocaine

1.5–6 mcg/ml

4.5–21.5 mcmol/L

Mexiletine

0.5–2 mcg/ml

nd

Procainamide

4–8 mcg/ml

17–34 mcmol/ml

Propranolol

50–200 ng/ml

190–770 nmol/L

Quinidine

2–6 mcg/ml

4.6–9.2 mcmol/L

Tocainide

4–10 mcg/ml

nd

Verapamil

0.08–0.3 mcg/ml

nd

Anticonvulsants

Carbamazepine

4–12 mcg/ml

17–51 mcmol/L

Phenobarbital

10–40 mcg/ml

43–172 mcmol/L

Phenytoin

10–20 mcg/ml

40–80 mcmol/L

Primidone

4–12 mcg/ml

18–55 mcmol/L

Valproic Acid

40–100 mcg/ml

280–700 mcmol/L

Antidepressants

Amitriptyline

110–250 ng/ml

500–900 nmol/L

Amoxapine

200–500 ng/ml

nd

Bupropion

25–100 ng/ml

nd

Clomipramine

80–100 ng/ml

nd

Desipramine

115–300 ng/ml

nd

Doxepin

110–250 ng/ml

nd

Imipramine

225–350 ng/ml

nd

Maprotiline

200–300 ng/ml

nd

Nortriptyline

50–150 ng/ml

nd

Protriptyline

70–250 ng/ml

nd

Trazodone

800–1600 ng/ml

nd

Antipsychotics

Chlorpromazine

50–300 ng/ml

150–950 nmol/L

Fluphenazine

0.13–2.8 ng/ml

nd

Haloperidol

5–20 ng/ml

nd

Perphenazine

0.8–1.2 ng/ml

nd

Thiothixene

2–57 ng/ml

nd

Drug Determination

Reference Value

Conventional units

SI units

Miscellaneous

Amantadine

Amrinone

300 ng/ml

3.7 mcg/ml

nd

nd

Chloramphenicol

10–20 mcg/ml

31–62 mcmol/L

Cyclosporine

250–800 ng/ml

(whole blood, RIA)
50–300 ng/ml (plasma, RIA)

nd

nd

Ethanol

0 mg/dl

0 mmol/L

Hydralazine

100 ng/ml

nd

Lithium

0.6–1.2 mEq/L

0.6–1.2 mmol/L

Salicylate

100–300 mg/L

724–2172 mcmol/L

Sulfonamide

5–15 mg/dl

nd

Terbutaline

0.5–4.1 ng/ml

nd

Theophylline

10–20 mcg/ml

55–110 mcmol/L

Vancomycin

(trough)

(peak)

5–15 ng/ml
20–40 mcg/ml

nd

nd

* Nilai yang diberikan secara umum dapat digunakan untuk terapi tanpa terjadi efek toksik pada kebanyakan pasien, Namun pengecualian juga tidak jarang terjadi.

1 nd = data tidak tersedia.

2 Metabolit N-desmethyl beserta turunannya.

3 Nilai 24 jam.

4 Toksik: 50–100 mg/dl (10.9–21.7 mmol/L).

Diambil dari The Joint National Committee on Prevention, Detection, Evaluation, and Treatment of High Blood Pressure, National Institutes of Health.

Classification of Blood Pressure *

Category

Reference value

Systolic (mm Hg)

Diastolic (mm Hg)

Optimal

< 120

and

< 80

Normal

< 130

and

< 85

High-normal

130–139

or

85–89

Hypertension

Stage 1

Stage 2

Stage 3

140–159
160–179

³ 180

or

or

or

90–99
100–109

³ 110

* Untuk dewasa berusia 18 atau lebih yang tidak dalam pengobatan anti hipertensi dan tidak dalam kondisi akut. Ketika tekanan sistole dan diastole masuk ke dalam kategori lain, maka kategori di atasnya harus dipilih untuk menentukan klasifikasi status tekanan darah penderita. Sebagai tambahan dalam menentukan stadium hipertensi, seorang praktisi medis harus menentukan ada atau tidaknya penyakit pada target organ serta faktor resiko lainnya.

1 Tekanan darah yang optimal terhadap resiko kardiovaskular adalah dibawah 120/88 m Hg. Namun demikian, nilai rendah yang tidak wajar harus dievaluasi untuk menemukan kelainan klinis yang signifikan.

2 Berdasarkan atas pembacaan sebanyak 2 kali atau lebih pada pemeriksaan awal.

 

Semakin Banyak Memberi, Semakin Banyak Menerima

“Namaku Linda. Aku memiliki sebuah kisah cinta yang memberiku sebuah pelajaran tentangnya. Ini bukanlah sebuah kisah cinta hebat dan  mengagumkan penuh gairah seperti dalam novel-novel roman, walau begitu menurutku ini adalah kisah yang jauh lebih mengagumkan dari itu semua.

Ini adalah kisah cinta ayahku, Mohammed Huda alhabsyi dan ibuku, Yasmine Ghauri. Mereka bertemu disebuah acara resepsi pernikahan dan kata ayahku ia jatuh cinta pada pandangan pertama ketika ibuku masuk ke dalam ruangan. Saat itu ayah tahu, bahwa inilah perempuan yang akan menikah dengannya. Hal ini menjadi kenyataan, kini mereka telah menikah selama 40 tahun dan telah memiliki tiga orang anak, aku anak tertua, telah menikah dan memberikan mereka dua orang cucu.

Mereka bahagia dan selama bertahun-tahun telah menjadi orang tua yang sangat baik bagi kami, mereka membimbing kami, anak-anaknya dengan penuh cinta kasih dan kebijaksanaan. Aku teringat suatu hari ketika aku masih berusia belasan tahun. Saat itu beberapa ibu-ibu tetangga kami mengajak ibuku pergi kepembukaan pasar murah yang mengobral alat-alat kebutuhan rumah tangga. Mereka mengatakan saat pembukaan adalah saat terbaik untuk berbelanja barang obral karena saat itu saat termurah dengan kualitas barang-barang terbaik.

Tapi ibuku menolaknya karena ayahku sebentar lagi pulang dari kantor. Kata ibuku,”Mama tak akan pernah meninggalkan papa sendirian”. Hal itu yang selalu dicamkan oleh ibuku kepadaku. Apapun yang terjadi, sebagai seorang perempuan aku harus patuh pada suamiku dan selalu menemaninya dalam keadaan apapun, baik miskin, kaya, sehat maupun sakit. Seorang perempuan harus bisa menjadi teman hidup suaminya. Banyak orang tertawa mendengar hal itu menurut mereka, itu hanya janji pernikahan, omong kosong belaka. Tapi aku tak pernah memperdulikan mereka, aku percaya nasihat ibuku.

Sampai suatu hari, bertahun-tahun kemudian, kami mengalami duka, setelah ulang tahun ibuku yang ke-59, ibuku terjatuh di kamar mandi dan menjadi lumpuh. Dokter mengatakan kalau saraf tulang belakang ibuku tidak berfungsi lagi sehinnga ia harus menghabiskan sisa hidupnya di tempat tidur. Ayahku, seorang pria yang masih sehat diusianya yang lebih tua, tapi ia tetap merawat ibuku, menyuapinya, bercerita banyak hal padanya, mengatakan padanya kalau ia mencintainya. Ayahku tak pernah meninggalkannya, selama bertahun-tahun, hampir setiap hari ayahku selalu menemaninya, ia masih suka bercanda-canda dengan ibuku. Ayahku pernah mencatkan kuku tangan ibuku, dan ketika ibuku bertanya ,”untuk apa kau lakukan itu? Aku sudah sangat tua dan jelek sekali”. Ayahku menjawab, “aku ingin kau tetap merasa cantik”. Begitulah pekerjaan ayahku sehari-hari, ia merawat ibuku dengan penuh kelembutan dan kasih sayan.

Para kenalan yang mengenalnya sangat hormat dengannya. Mereka sangat kagum dengan kasih sayang ayahku pada ibuku yang tak pernah pudar. Suatu hari ibu berkata padaku sambil tersenyum, “Kau tahu, Linda. Ayahmu tak akan pernah meninggalkan aku…kau tahu kenapa?” Aku menggeleng dan ibuku melanjutkan, “karena aku tak pernah meninggalkannya. ..”

Itulah kisah cinta ayah dan ibuku. Mereka memberikan kami, anak-anaknya pelajaran tentang tanggung jawab, kesetiaan, rasa hormat, saling menghargai, kebersamaan, dan cinta kasih. Bukan dengan kata-kata, tapi mereka memberikan contoh dari kehidupannya.

sumber : http://www.conectique.com/enlight_your_life/article.php?article_id=5841

CARA MENCUCI TANGAN YANG BENAR TERNYATA TELAH DIAJARKAN NABI KITA 14 ABAD LALU

Para ahli kesehatan telah meneliti cara mencuci tangan yang benar yang menurut mereka paling efektif dalam menghilangkan kotoran dan kuman..

Namun, tahukah anda, bahwa cara mencuci tangan yang dijelaskan oleh ahli kesehatan tersebut, sudah diajarkan oleh Islam sejak 14 abad yang lalu..?

simak pembahasannnya …

Cuci tangan adalah tindakan yang sering kali kita anggap sepele, namun merupakan hal yang sangat penting dalam menjaga higiene tangan maupun kulit serta salah satu upaya efektif dalam mencegah infeksi nosokomial. Cuci tangan merupakan salah satu tindakan yang paling mudah dan murah untuk mencegah penyebaran penyakit, di antaranya diare dan penyakit pernafasan.

Para ahli kesehatan menjelaskan bahwa cara mencuci tangan yang benar adalah dengan menyela-nyela jari. Hal ini akan mampu menghilangkan kotoran dan kuman yang menempel di jari kita.

Tahukah anda, bahwa Islam telah mengajarkan tatacara mencuci tangan yang benar ini 14 abad lalu dengan disyariatkannya wudhu.

Sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Laqith bin Shabrah, katanya, “Aku berkata: ‘Wahai Rasulullah, kabarkan kepadaku tentang wudhu?’” Nabi berkata, “Sempurnakan wudhu-mu, dan sela-selalah antara jari-jemarimu, dan bersungguh sungguhlah dalam memasukkan air ke dalam hidung kecuali jika kamu dalam keadaan berpuasa.” (Diriwayatkan oleh lima imam, dishahihkan oleh Tirmidzi).

Tentang kebaikan mencuci tangan, Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa yang tidur dalam keadaan tangannya masih bau daging kambing dan belum dicuci, lalu terjadi sesuatu, maka janganlah dia menyalahkan kecuali dirinya sendiri.” (HR. Ahmad, no. 7515, Abu Dawud, 3852 dan lain-lain, hadits ini dishahihkan oleh al-Albani)

Dalam riwayat lain, Abu Hurairah menyatakan, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah makan belikat kambing. Sesudah selesai makan beliau berkumur-kumur, mencuci dua tangannya baru melaksanakan shalat. (HR. Ahmad, 27486 dan Ibn Majah 493, hadits ini dishahihkan oleh al-Albani)

Abban bin Utsman bercerita, bahwa Utsman bin Affan pernah makan roti yang bercampur dengan daging, setelah selesai makan beliau berkumur-kumur dan mencuci kedua tangan beliau. Lalu dua tangan tersebut beliau usapkan ke wajahnya. Setelah itu beliau melaksanakan shalat dan tidak berwudhu lagi. (HR. Malik, no. 53)

Nafi’ mengatakan, bahwa Ibnu Umar jika ingin tidur atau ingin makan dalam kondisi junub maka beliau membasuh wajah dan kedua tangannya sampai siku dan mengusap kepala. (baca: berwudhu) sesudah itu beliau baru makan atau tidur.” (HR Malik, no. 111)

Aisyah radhiyallahu ‘anha mengatakan, bahwa Rasulullah bila hendak tidur dalam keadaan junub maka beliau berwudhu terlebih dahulu, dan apabila beliau hendak makan maka beliau mencuci kedua tangannya terlebih dahulu.” (HR Nasa’i no. 256, Ahmad, 24353, dan lain-lain).

Berikut penjelasan lengkap tentang mencuci tangan menurut para ahli kesehatan.

Tahapan Cuci Tangan Yang Baik dan Benar

Tahap 1 : basahi tangan dengan air yang mengalir.

Tahap 2 : pakailah sabun sambil membersihkan bagian-bagian tangan dengan rincian di bawah ini selama 20 detik.

Tahap 3 : bersihkan telapak tangan dengan cara menggosok-gosokkan telapak tangan yang saling berhadapan.

Tahap 4 : bersihkan punggung tangan dengan cara menggosok-gosokkan punggung tangan yang satu dengan telapak tangan yang lain. Lakukan secara bergantian antara tangan kiri dan tangan kanan.

Tahap 5 : bersihkan jari jemari dan persendiaannya dengan cara saling meremas antara jari-jari tangan kiri dengan jari-jari tangan kanan.

Tahap 6 : bersihkan ibu jari dengan cara menggenggam ibu jari yang satu dengan tangan lainnya dan saling memutar-mutar dengan arah berlawanan. Lakukan secara bergantian antara tangan kiri dan kanan.

Tahap 7 : bersihkan ujung jari dengan cara menggosok-gosokkan ujung jari terhadap telapak tangan yang satunya. Lakukan secara bergantian antara tangan kiri dan kanan.

Tahap 8 : bersihkan pergelangan tangan dengan cara memegang pergelangan tangan yang satu dengan tangan yang lainnya dan saling memutar-mutar dengan arah berlawanan.

Tahap 9 : bilas pada air yang mengalir guna membersihkan tangan dari sabun.

Tahap 10 : keringkan dengan handuk atau diangin-anginkan.

Manfaat Cuci Tangan

  • Membersihkan tangan dari bakteri penyakit, bahan kimia dan kotoran lainnya.
  • Dengan tangan yang bersih dapat mencegah penyakit dan bahan berbahaya lainnya agar tidak masuk tubuh yang dapat menimbulkan sakit.
  • Membiasakan diri untuk selalu hidup bersih dan sehat guna keuntungan diri sendiri dan orang lain.

Kapan harus mencuci tangan?

  • Sebelum makan
  • Sesudah dari kamar
  • Sepulang dari bepergian
  • Sesudah memegang benda kotor, uang dan hewan
  • Sebelum menyiapkan makanan
  • Setelah menggunakan kamar mandi

coba posting via hp

Baru pertama aqcoba posting tulisan via hp baruku. ternyata cukup susah untuk menulis dengan hp touchscreen, ya butuh perjuangan untuk nulis segini aja, apalagi kalo nulis banyak kata.

kendala utama nulis melalui hp yaitu pada layar yang kecil dan huruf pada layar yang juga kecil sehingga sangat menyulitkan dalam mengetik tulisan dengan cepat dan benar. sehingga dibutuhkan kesabaran dalam menulis.

Belum tahu bagaimana hasilnya kalau dilihat dii komputer, semoga tidak beda dengan tampilan di hp

Bila Al Qur’an bisa bicara !

Waktu engkau masih kanak-kanak, kau laksana kawan sejatiku

Dengan wudu’ aku kau sentuh dalam keadaan suci

Aku kau pegang, kau junjung dan kau pelajari

Aku engkau baca dengan suara lirih ataupun keras setiap hari

Setelah usai engkaupun selalu menciumku mesra

Sekarang engkau telah dewasa…

Nampaknya kau sudah tak berminat lagi padaku…

Apakah aku bacaan usang yang tinggal sejarah…

Menurutmu barangkali aku bacaan yang tidak menambah pengetahuanmu

Atau menurutmu aku hanya untuk anak kecil yang belajar mengaji saja?

Sekarang aku engkau simpan rapi sekali hingga kadang engkau lupa dimana menyimpannya

Aku sudah engkau anggap hanya sebagai perhiasan rumahmu

Kadangkala aku dijadikan mas kawin agar engkau dianggap bertaqwa

Atau aku kau buat penangkal untuk menakuti hantu dan syetan

Kini aku lebih banyak tersingkir, dibiarkan dalam kesendirian dalam kesepian

Di atas lemari, di dalam laci, aku engkau pendamkan.

Dulu…pagi-pagi…surah-surah yang ada padaku engkau baca beberapa halaman

Sore harinya aku kau baca beramai-ramai bersama temanmu di surau…..

Sekarang… pagi-pagi sambil minum kopi…engkau baca Koran pagi atau nonton berita TV

Waktu senggang..engkau sempatkan membaca buku karangan manusia

Sedangkan aku yang berisi ayat-ayat yang datang dari Allah Yang Maha Perkasa.

Engkau campakkan, engkau abaikan dan engkau lupakan…

Waktu berangkat kerjapun kadang engkau lupa baca pembuka surahku (Basmalah)

Diperjalanan engkau lebih asyik menikmati musik duniawi

Tidak ada kaset yang berisi ayat Alloh yang terdapat padaku di laci mobilmu

Sepanjang perjalanan radiomu selalu tertuju ke stasiun radio favoritmu

Aku tahu kalau itu bukan Stasiun Radio yang senantiasa melantunkan ayatku

Di meja kerjamu tidak ada aku untuk kau baca sebelum kau mulai kerja

Di Komputermu pun kau putar musik favoritmu

Jarang sekali engkau putar ayat-ayatku melantun

E-mail temanmu yang ada ayat-ayatkupun kadang kau abaikan

Engkau terlalu sibuk dengan urusan duniamu

Benarlah dugaanku bahwa engkau kini sudah benar-benar melupakanku

Bila malam tiba engkau tahan nongkrong berjam-jam di depan TV

Menonton pertandingan Liga Italia , musik atau Film dan Sinetron laga

Di depan komputer berjam-jam engkau betah duduk

Hanya sekedar membaca berita murahan dan gambar sampah

Waktupun cepat berlalu…aku menjadi semakin kusam dalam lemari

Mengumpul debu dilapisi abu dan mungkin dimakan kutu

Seingatku hanya awal Ramadhan engkau membacaku kembali

Itupun hanya beberapa lembar dariku

Dengan suara dan lafadz yang tidak semerdu dulu

Engkaupun kini terbata-bata dan kurang lancar lagi setiap membacaku.

Apakah Koran, TV, radio , komputer, dapat memberimu pertolongan ?

Bila engkau di kubur sendirian menunggu sampai kiamat tiba Engkau akan diperiksa oleh para malaikat suruhanNya. Hanya dengan ayat-ayat Allah yang ada padaku engkau dapat selamat melaluinya.

Sekarang engkau begitu enteng membuang waktumu…

Setiap saat berlalu…kuranglah jatah umurmu…

Dan akhirnya kubur sentiasa menunggu kedatanganmu..

Engkau bisa kembali kepada Tuhanmu sewaktu-waktu

Apabila malaikat maut mengetuk pintu rumahmu.

Bila aku engkau baca selalu dan engkau hayati…

Di kuburmu nanti….

Aku akan datang sebagai pemuda gagah nan tampan, yang akan membantu engkau membela diri

Bukan koran yang engkau baca yang akan membantumu Dari perjalanan di alam akhirat

Tapi Akulah “Qur’an” kitab sucimu, yang senantiasa setia menemani dan melindungimu

Peganglah aku lagi . .. bacalah kembali aku setiap hari

Karena ayat-ayat yang ada padaku adalah ayat suci

Yang berasal dari Alloh, Tuhan Yang Maha Mengetahui

Yang disampaikan oleh Jibril kepada Muhammad Rasulullah.

Keluarkanlah segera aku dari lemari atau lacimu…

Jangan lupa bawa kaset yang ada ayatku dalam laci mobilmu

Letakkan aku selalu di depan meja kerjamu

Agar engkau senantiasa mengingat Tuhanmu

Sentuhilah aku kembali…

Baca dan pelajari lagi aku….

Setiap datangnya pagi dan sore hari

Seperti dulu….dulu sekali…

Waktu engkau masih kecil , lugu dan polos…

Di surau kecil kampungmu yang damai

Jangan aku engkau biarkan sendiri….

Dalam bisu dan sepi….

Mahabenar Allah, yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana

By : NN

http://www.conectique.com/enlight_your_life/article.php?article_id=7948

Jangan Anggap Remeh Mimisan

Dalam istilah kedokteran, mimisan disebut epistaksis. Fenomena ini ditandai darah yang keluar dari rongga hidung yang kerap di alami oleh balita atau remaja dewasa.

Walalupun mimisan dapat berhenti sendiri tapi sebaiknya jangan diabaikan, karena bisa jadi mimisan merupakan gejala dari penyakit atau gangguan yang lebih serius.

Bagi orang tua perlu mewaspadai jika anaknya mengalami mimisan pertama kali yang disertai gejala demam. Karena bisa jadi mimisan tersebut adalah gejala penyakit berat seperti kanker darah.

Penyebab :

Mimisan bukanlah penyakit, tetapi gejala dari penyakit atau kelainan yang kebanyakan tidak memiliki sebab yang mudah diidentifikasi.

Secara umum penyebab terjadinya mimisan, yaitu :

  1. Gangguan yang terlokalisir di hidung, misalnya akibat benturan atau mengeluarkan ingus dengan keras, infeksi, alergi hidung dan tumor.
  2. Penyakit sistemik seperti kardiovaskular (tekanan darah tinggi), penyakit darah (leukemia), kanker darah, gangguan pembekuan darah (hemofilia), infeksi (DBD, TBC dan demam tiroid), penyakit liver dan kencing manis.
  3. Gangguan hormonal, seperti meningkatnya kadar estrogen pada perempuan dan menyebabkan pelebaran pembuluh darah sehingga mudah terjadi mimisan.
  4. Kekurang vitamin C dan K.

Cara menangani mimisan :

Mimisan bukanlah penyakit, karena itu mimisan bisa dengan mudah di hentikan. Berikut beberapa cara menangani mimisan dilihat dari lokasi pendarahannya :

  • Pendarahan Anterior

Pendarahan anterior biasanya berasal dari sekat hidung bagian depan. Jika sumbernya bisa dilihat, tempat asal pendarahan tersebut dikaustik dengan larutan AgNO3 (perak nitrat). Caranya: basahi kapas lidi dengan larutan AgNO3 lalu oleskan pada pembuluh darah yang terbuka. Kemudian daerah yang dikaustik diolesi salep antibiotik untuk mencegah terjadinya infeksi.

Bila pendarahan tidak berhenti juga, maka upaya selanjutnya adalah dengan memasang tampon anterior. Kapas atau kasa di gulung dan dimasukan ke dalam lubang hidung sampai padat sehingga dapat menekan pembuluh darah yang pecah.

  • Pendarahan Posterior

Pendarahan ini disebabkan pecahnya pembuluh darah yang berada di bagian belakang hidung. Pendarahan posterior biasanya lebih hebat dan susah dicari sumber pendarahannya sehingga lebih sulit diatasi. Untuk menanggulanginya dilakukan pemasangan tampon posterior yang disebut tampon bellocq.

Tips Atasi Mimisan di rumah :

  1. Dudukan penderita dalam posisi sedikit membungkuk
  2. Jepit hidung selama 10 menit dengan menggunakan ibu jari dan telunjuk
  3. Usahakan jangan bernafas lewat hidung
  4. Jika pendarahan tidak juga berhenti segera bawa ke dokter