Salah Kaprah Terapi Herbal (bagian kedua)

Seperti janji simbah sebelumnya, sekarang kita mbahas lagi beberapa hal yang terkait dengan herbal. Simbah lanjutkan hal-hal yang kurang benar di dalam terapi herbal.

3. Kesalahan dalam penggolongan bahan herbal.

Di dalam sebuah iklan produk herbal di satu majalah Islam yang terbit secara Nasional (simbah tak etis kalau menyebut merk dan nama majalahnya), disebutkan dengan nada agak gegap gempita :

MENGHADIRKAN HERBAL TERBAIK KELAS DUNIA !!!

Setelah menyebutkan kata “Herbal Terbaik Kelas Dunia” ini disebutkanlah bahan yang dimaksud, yakni : Gamat…..!?!?
Sang pembuat iklan bukannya tak tahu Gamat itu apa. Disitu disebutkan Gamat adalah: Binatang invertebrata pemakan makan organik yang hidup di dasar laut.
Tak beda jauh dengan satu iklan di satu website, bahkan di sebagian website terkenal (kalau pingin tahu, tanya mbah google dengan keyword Gamat Bahan Herbal), disebutkan bahwa Gamat nama lainnya adalah Teripang atau Mentimun laut, dan dimasukkan ke dalam golongan herbal.

Simbah bukan ahli zoologi atau palaentologi. Tapi karena disebutkan disitu dengan jelas bahwa gamat adalah binatang invertebrata, seharusnya bahan ini bukan dimasukkan ke dalam bahan herbal. Mungkin karena nama lainnya Mentimun laut, maka ada yang memasukkannya ke dalam bahan herbal. Padahal kata herbal sendiri maknanya tumbuhan, bukannya binatang.

Kerancuan bahan herbal ini juga dialami oleh Susu Kambing, yang bahkan produsennya merupakan satu perusahaan yang memakai kata herbal. Demikian juga dengan propolis, yang merupakan produk lebah. Sedangkan madu, memang ahli herbal memasukkan ke dalam bahan herbal dengan alasan yang kuat. Yakni madu terbentuk di sarang lebah, bukan di tubuh lebah. Lebah hanya berperan membawa dan menaruh di sarangnya, lalu menambahinya dengan enzim yang lantas membuat bahan nektar berubah menjadi madu.

Nuwun sewu kalo simbah rada-rada menggunakan bahasa agak serius. Lha kalo pakek bahasa mbambung ntar dikira guyonan. Jadi khusus episode ini simbah menuliskan naskahnya sambil mengelus kening. Walaupun sebetulnya letak otak bukan pas di kening. Lha daripada mengelus dengkul, simbah masih lebih dari sekedar mending.  Jadi sampeyan jangan membaca sambil mengelus pantat… wah itu lebih parah.

Poin ini simbah sampaikan agar produsen bahan herbal berhati-hati dalam menyebutkan golongan produknya. Karena sebagiannya diawali dengan menyebut hadits shahih. Bahkan pakai tulisan arabnya. Kebetulan konsumennya juga gak paham apa itu herbal, jadi ya laris-laris saja produk itu.

4. Jika sudah memakai herbal, tak perlu obat kimia.

Pernyataan ini harus dilihat per kasus. Jika memang herbalnya memang berfungsi terapi dan itulah herbal of choice untuk kasus penyakitnya, ya silakan saja.

Namun jika fungsi herbal disitu adalah sebagai suplemen atau terapi pendukung, maka penggunaan obat sintetis kimia masih merupakan drug of choice yang harus tetap dipakai. Sehingga terapi herbal dan medis kimia seyogyanya ditempatkan sebagai komplemen yang saling melengkapi, dan bukannya substistusi dimana yang satu “harus” menggantikan yang lain.

5. Testimoni yang tidak cerdas.

Hampir semua penggunaan herbal mengandalkan ujung tombak testimoni sebagai pendukung utama promosinya. Namun seyogyanya sebuah testimoni yang mengungkapkan keberhasilan terapi herbal haruslah dengan bahasa yang cerdas. Syarat testimoni yang cerdas di antaranya sebagai berikut :

1. Diagnosa penyakit yang disebutkan haruslah tegak dengan penegakkan diagnosa yang benar dan obyektif. Misalnya : didukung dengan pemeriksaan yang menyebutkan angka-angka yang terukur dari pemeriksaan laboratorium, atau jika itu diagnosa kelainan organ dalam haruslah didukung alat pemeriksaan dalam. Semisal : ronsen, endoskopi atau USG dsb.

Di poin ini, seringkali testimoni satu penyakit hanya berdasar pengakuan tanpa data lab. Misal mengaku sakit liver. Trus minum herbal lalu mengaku sembuh. Lha tahu kalo livernya sakit darimana? Trus livernya sakit bagian apanya juga gak jelas. Padahal penyakit yang bisa menyerang liver jumlahnya rong ikrak tumplak. Ini testimoni membodohi, dan bukan hal yang cerdas. Jika mau cerdas, pengakuan sakit livernya haruslah disertakan data obyektif, misal USG, lalu data kimia darah, misal SGOT, SGPT, Bilirubin baik direct maupun indirect…dlsb. Jadi pengakuan sakit livernya obyektif, dan bukan pengakuan subyektif semata. Apalagi ternyata sakit livernya itu merupakan hasil diagnosa (semi tebakan) dari mbah Dukun Sembur… halah…Maka demikian halnya jika testimoni mengaku sakit ginjal, jantung, paru-paru dan penyakit dalam lainnya, harus disertai data obyektif.

2. Pengakuan diagnosa berdasar perkataan, “Menurut dokter, sakit saya adalah…” tidaklah mencukupi. Mengapa tidak mencukupi? Karena dalam mendiagnosa satu penyakit, pernyataan dokter akan satu diagnosa diawali dengan satu diagnosa yang derajatnya masih merupakan “kemungkinan”. Kemungkinan itulah yang nantinya dibuktikan dengan pemeriksaan pendukung dari lab maupun alat bukti pendukung lainnya. dan bahasa yang dipakai dokter pun jelas.

Jadi bahasa testimoni yang seringkali menggunakan kata, “Dokter sudah memvonis ini dan itu…” haruslah diperjelas alasan vonisnya. Karena untuk kepentingan bagusnya testimoni, seringkali diagnosa yang masih taraf “kemungkinan” sudah dianggap vonis oleh pasien.

Sebelum kening sampeyan panas karena kelamaan dielus-elus, simbah sudahi dulu poin testimoni ini. Insya Allah akan simbah sambung ke bagian ketiga tulisan ini mengenai bagaimana satu testimoni dianggap cerdas.

sumber : http://www.pitutur.net/salah-kaprah-terapi-herbal-bagian-kedua.jsp

Salah Kaprah Terapi Herbal (bagian pertama)

Sekitar seminggu yang lalu simbah kedatangan pasien langganan simbah yang mengeluhkan sakit kepala hebat. Pasien ini adalah pasien lama yang rajin kontrol karena menderita tekanan darah tinggi. Namun sudah sekian lama ini pasien ini absen kontrol, baru hari itu njedhul wal nongol lagi.

Walhasil, setelah simbah ukur tensinya, ternyata tekanan darahnya mencapai angka 200 sistole dan 110 diastole. Simbah agak kaget, karena pada dua kali kontrol sebelumnya, sang pasien menunjukkan angka tekanan darah yang cenderung normal. Ha kok absen sekian lama, dumadakan tensinya menjadi njeblug ke ubun-ubun. Maka simbah pun menginterogasi:

“Obatnya apa nggak diminum tho pak?” tanya simbah.

“Begini dok,” katanya mulai menjelaskan. “Sudah lebih dari 2 minggu ini saya tidak lagi meminum obat yang biasa mbah dokter kasih. Saya sekarang beralih ke pengobatan herbal ala Nabi mbah, karena sekarang saya sedang menjalani terapi ke salah seorang ustadz.”

“Oo, begitu. Lantas yang memutuskan berhenti minum obat dari dokter bapak sendiri atau atas anjuran sang ustadz?”

“Semuanya atas anjuran ustadznya mbah. Bahkan saya sudah diruqyah, dan katanya memang pada diri saya ada 2 jin yang mengganggu sehingga tekanan darah saya nggak pernah normal. Ha wong diganggu jin terus.”

Hwarakadah… jin cap apa ini yang ngoprek-oprek tekanan darah. Jin cap Tempe Duduk apa ya? Sebelumnya perlu diketahui, bahwa pasien simbah ini juga menderita Diabetes Melitus dengan kontrol yang baik. Gulanya tak pernah melebihi 200 mg/dl. Dan atas pengakuan sang pasien, sang ustadz memberikan terapi Habbatussauda dan madu, serta menyarankan agar semua obat dari dokter yang dibahasakan dengan kata “obat kimia” harus dihentikan. Diganti dengan obat herbal yang “pasti tanpa efek samping”.

Sampai di sini simbah merasa sedih dan sekaligus prihatin. Pendapat seperti yang disampaikan sang pasien dan juga ustadznya yang mengobatinya di atas sangat banyak penganutnya. Bahkan dengan segala embel-embel istilah yang dipegang teguh oleh penganutnya. Padahal definisinya amburadul dan seringkali tak dipahami.

Simbah bukan hendak merendahkan dan meremehkan pengobatan herbal. Simbah sendiri adalah pelaku pengobatan herbal dan menjadi konsultan pengobatan herbal di salah satu perusahaan yang bergerak di bidang herbal. Namun tak bisa dipungkiri bahwa praktisi herbal yang ada di lapangan seringkali tak memiliki latar belakang medis apapun. Apalagi kalau sudah menyangkut keyakinan, seperti Thibbun Nabawi, seringkali praktisinya hanya mendasarkan sabda Nabi saw bahwa dengan bahan obatnya (entah benar dosis dan cara pakainya atau tidak) pasti sembuh. Tak peduli etiologi penyakitnya bagaimana, pokoknya obatnya yang itu. Sampai-sampai penyakit turun berok yang sudah gondhal-gandhul sebesar kepala bayi hanya diberi madu dan habbatussauda, dengan keyakinan turun beroknya bisa naik berok sendiri.

Beberapa kesalahan pemahaman dalam pengobatan herbal di antaranya adalah :

1. Obat medis adalah obat kimia, sedangkan herbal bukan kimia.
Memang istilah ini hanyalah sekadar istilah untuk memudahkan penyebutan dan pengelompokan. Tapi sebenarnya baik obat medis maupun herbal semuanya adalah bahan kimia. Karena semua zat yang ada di alam semesta ini tersusun atas unsur-unsur kimia. Bahkan air ludah yang ada di mulut kita dan kita ‘emut’ layaknya permen sehari-hari itupun merupakan bahan kimia. Mungkin kalau mau menggunakan istilah yang lebih mendekati benar (tidak seratus persen benar) adalah: obat medis merupakan kimia sintetis, sedangkan herbal adalah kimia alami. Namun semuanya merupakan bahan kimia.

2. Obat medis selalu memiliki efek samping dan tidak aman, sedangkan herbal tumbuhan alami bebas efek samping dan aman.
Istilah ini memberi kesan bahwa obat medis berbahaya dan tidaka aman dikonsumsi karena selalu memberikan efek samping yang merusak, sedangkan herbal aman dan tidak bahaya karena tanpa efek samping. Istilah ini dipakai tanpa dasar dan mengabaikan banyak fakta. Herbal walaupun alami, bukannya tanpa efek samping. Bahkan tidak selalu aman.

Kita semua tahu bahwa bayam, kangkung, asparagus adalah sayuran – sudah pasti bahan herbal- yang memiliki zat yang bermanfaat bagi tubuh. Bayam dan kangkung bagus untuk nutrisi karena kandungan zat besinya yang tinggi. Tapi apakah selalu aman dikonsumsi? Ternyata tidak. Penderita asam urat hampir selalu diingatkan dokter ketika berobat, untuk menghindari konsumsi kedua bahan herbal ini.

Bahan tumbuhan pun ada juga yang berbahaya bahkan beracun. Semua tahu bahwa makanan binatang Koala adalah daun eucaliptus yang jika dimakan manusia hampir bisa dipastikan wasalam. Dan satu lagi bahan herbal tumbuhan alami untuk sedikit ngobok-obok pemahaman rancu ini adalah daun ganja, dan daun koka. Bagi yang rajin nyimeng pasti kenal dengan daun ganja. tentu saja ini bukan bahan kimia, namun herbala alami. Namun sekali nyedhot sak sledupan, bisa mbikin melayang-layang. Sedangkan daun koka adalah bahan pembuat kokain yang bahayanya sudah disepakati baik tabib herbal maupun ahli medis, bahkan oleh Kang Panjul yang awam sekalipun.

Jadi tingkat bahaya dan keamanan tidak bergantung pada bahan alami atau kimia sintetis. Namun banyak faktor berperan dalam keamanan pemakaian satu bahan terapi. Diantaranya adalah dosis, cara pemakaian, lamanya pemakaian dan interaksi pemakaian dengan bahan lain. Keunggulan bahan alami dalam hal keamanan adalah pemakaian jangka lama. Bahan alami cenderung lebih aman jika dipakai dalam jangka lama. Dan memang hampir semua bahan alami ditujukan untuk terapi jangka panjang, bukan untuk terapi akut jangka pendek. Dalam hal serangaan akut jangka pendek, terapi kimia medis lebih unggul. Itulah mengapa simbah menyayangkan sang ustadz yang menghentikan terapi simbah pada penderita tekanan darah tinggi yang sebenarnya sudah simbah program untuk mengurangi obat kimia medis dan perlahan bergeser ke pengobatan herbal. Peralihan ini butuh waktu panjang, bahkan tahunan. Tidak bisa langsung seseorang menghentikan terapi dokter, lalu diganti dengan terapi yang efeknya baru terasa setelah jangka lama, sementara serangannya akut.

Seperti biasa, jika tulisan simbah sudah agak kedawan wal pating klewer begini, simbah lebih suka memecahnya menjadi beberapa bagian. Masih ada beberapa poin penting yang mau simbah sampaiken. Namun untuk menghindari pembaca nyekrol mouse sampai ndlosor, simbah sudahi dulu bagian pertama bab ini.

sumber : http://www.pitutur.net/salah-kaprah-terapi-herbal-bagian-pertama.jsp

Disunat Jin

Ini bukan peristiwa ganjil pertama yang simbah alami. Tentu sampeyan inget pigimanah simbah menghadapi kasus kuntilanak yang nimbrung taklim. Atawa kasus kesurupan yang berulang simbah tandangi. Nah kali ini kasusnya berkaitan dengan seorang anak kecil berumur 3 tahunan yang menurut pengakuan warga disunat oleh jin.

Ceritanya begini:
Pagi itu simbah diserbu oleh serombongan orang yang berduyun nggrudug ke klinik. Di wajah salah seorang ibu tergambar mimik wajah khawatir sambil menggendong anak laki-lakinya yang masih berumur 3 tahunan. Setelah masup ke ruang praktek sang ibu bercerita:

“Mbah ini anak laki-laki saya, kata tetangga disunat jin,” kata sang ibu sambil mlotrokne celana anaknya. “Coba mbah, tolong dilihat apa betul ini hasil kerja jin?”

Hwarakadah, begitu simbah melihat manuknya si thole, simbah terkagum-kagum dengan kondisinya. Manuk itu benar-benar sudah tampak seperti disunat dengan rapi. Bahkan alat sunat paling mutakhirpun belum tentu menghasilkan adikarya mantabh seperti itu. Kulup sang manuk sudah sangat rapi terbuka sebagaimana layaknya seorang anak yang sudah disunat oleh seorang Maestro Supit. Wah, jin alam mana yang bisa nyunat serapi itu?

Sejenak simbah bingung mau nggedabrus apa. Lha kasus ini belum pernah simbah temui dulu saat koas. Memang pas kuliah dulu simbah jarang masup, kalopun masup hampir selalu terngowoh-ngowoh karena ngantuk. Tapi memang kasus satu ini masup dalam jajaran disiplin ilmu apa juga masih menjadi misteri buat simbah saat itu.

Agar suasana tidak tambah panik, simbah pasang tampang sok tahu agar para pengantar pasien dan ibunya menjadi tenang. Maka keluarlah gedabrusan ala simbah yang ternyata cukup ampuh meredam keributan:

“Begini bu, ini mah bukan disunat jin,” kata simbah seakan biasa menghadapi kasus kayak begituan. “Itu kulupnya si thole sebenarnya kena iritasi bahan kimia hingga tampang nglunthung begitu. Coba sampeyan perhatikan, bagian ujung kulupnya keras kan? Ini ciri khas kena racun kimia. Nah yang perlu dicari adalah racun kimia darimana ini?”

“Mosok sih mbah?” nada bicara sang ibu gak begitu yakin dengan uraian simbah. “Bahan kimia darimana mbah?”

“Kemungkinan besar dari serangga, ceremende, kecoa atau dari bahan kain yang dipakai anaknya. Akibatnya kulup si anak mengkeret rata, sehingga tampak nglunthung kayak sudah disunat.” Terus terang simbah heran, kok bisa-bisanya menyusun kata-kata pating tirik yang sebenarnya sekedar menenangkan rombongan orang panic itu.

“Trus ini obatnya apa mbah? Apa masih bisa kembali ke posisi semula lagi?”

Gedubrak… inilah pertanyaan yang simbah khawatirkan akan muncul, karena akan membutuhkan uraian panjang lebar. Coba kalo dijawab, “Ooo ini bener disunat jin bu. Jin nya yang mbaurekso pohon ciplukan depan komplek itu bu. Sudahlah sekarang tinggal bikin bancakan saja…” kalimat ini lebih selamat, soalnya simbah pasti nggak dikejar pertanyaan baru. Dan tentu saja sorenya sekotak sego genduren (nasi kenduren) pasti terkirim dengan sentausa. Akhirnya pertanyaan si ibu simbah jawab:

“Ini simbah kasih salep tolong dioles ke seluruh permukaan kulup dan manuk si thole. Kalau belum kasep insya Allah masih bisa mbalik kulupnya. Tapi kalo nggak balik ya sudah, wong sudah rapi begitu mau diapain lagi,” kata simbah diplomatis agak beraroma ngeles sambil menyerahkan salep berisi kortikosteroid dosis menengah yang merupakan kesimpulan spekulatif simbah terhadap kasus medis yang masih hung liwang-liwung ini.

Tak dinyana, tak lebih dari sepeminum teh dan sepemakan sego aking, si ibu sudah bisa tersenyum saat melihat anaknya bangun tidur sore dan kulupnya sudah kembali nutup dengan sempurna. Simbah yang mendengar kisah si ibu juga gembira campur kaget, ha wong tadinya simbah juga gak yakin kalo resep simbah tersebut benar-benar bisa bekerja. Di status si anak itu simbah juga belum menulis diagnosanya apa. Namun memang simbah putuskan itu adalah kasus akibat reaksi kimia, makanya simbah kasih krim kortikosteroid.

Yang lebih menggembirakan simbah adalah simbah bisa membungkam mulut para penggemar klenik dan tahayul yang saat itu ngoceh kalo itu adalah hasil hasta karya jin. Memang sudah menjadi kebiasaan orang negeri ini, jika ada peristiwa yang tak masup akal lantas dihubung-hubungkan dengan alam jin. Simbah bukan tak percaya jin. Tapi mengaitkan sesuatu yang tak dipahami lalu divonis itu adalah hasil kerja jin, gendruwo, wewe gombel, kuntilanak ataupun makhluk alien dari alas setan kobar adalah terlalu tergesa-gesa.

Jika kasus simbah tersebut terjadi di pedalaman, simbah yakin gak bakalan dibawa ke dokter, melainkan ke dukun klenik. Lalu sang dukun memutuskan dengan kaca mata kleniknya bahwa sang anak benar-benar disunat jin. Tentu saja setelah akting secukupnya, sembar-sembur sekedarnya dan diakhiri kalimat penutup kalo sang dukun tak kuasa melawan tuah sang jin. Dan ujung-ujungnya: sego genduren, selembar amplop, ketenaran dan tentu saja… bodoh persisten.

sumber : http://www.pitutur.net/disunat-jin.jsp

Aliansi Global Luncurkan Uji Coba Obat TBC Baru

Hampir  4000 orang meninggal akibat Tuberculosis (TBC) setiap harinya di seluruh dunia. Para pejabat kesehatan masyarakat mengatakan upaya pengendalian TBC sangat membutuhkan obat baru.

Aliansi TBC meluncurkan uji klinis obat baru melawan infeksi pernafasan yang mematikan dan sangat menular ini di delapan wilayah di Afrika dan Amerika Selatan. Obat-obat baru ini mengandung obat anti bakteri baru  yang bisa  membunuh basil TBC lebih cepat dalam kombinasi dengan obat yang sudah dikenal, dan  sering digunakan.

Para pejabat senior pemerintah di Amerika menyambut percobaan yang diharapkan bisa mengendalikan penyakit yang menjadi semakin kebal terhadap obatan-obatan yang ada tersebut.

Dr Anthony Fauci, direktur Institut Nasional untuk Alergi dan Penyakit Menular, mengatakan obat-obatan ini akan diuji terhadap jenis TBC yang sensitif  maupun kebal terhadap obat. “Ini merupakan langkah maju penting dalam usaha luas sejak beberapa tahun untuk mengembangkan kombinasi obat-obatan melawan TBC,” ungkap Dr Anthony Fauci.

Dr Mel Spigelman , presiden Aliansi Global untuk Pengembangan Obat TBC, yakin obat-obat baru tersebut bisa mengubah upaya pengobatan TBC di seluruh dunia . Dia mengatakan siklus pengobatan baru akan lebih pendek dan lebih murah daripada obat-obat yang ada sekarang yang harus diminum selama enam sampai 30 bulan.

Dr Janet Woodcock dari Badan Pangan dan Obat-Obatan Amerika mengatakan TBC dapat lebih baik dikontrol jika ada persediaan lengkap obat-obatan baru melawan penyakit tersebut, karena seiring waktu, bakteri menjadi tahan terhadap kombinasi obat yang berbeda.

Robert Clay dari US Agency for International Development mencatat saat ini 10 obat-obatan eksperimental TBC sedang menjalani uji klinis. Sebagian besar penelitian didukung oleh dana dari Amerika dan negara-negara donor lainnya.

Walaupun demikian,  para ahli mengatakan bahkan setelah obat-obat itu disetujui, mungkin harus menunggu bertahun-tahun sebelum obat-obatan tersebut menjadi bagian dari cara pengobatan TBC biasa.

Para ahli mengatakan jika kita ingin memenangkan perang melawan TBC, keseluruhan rantai pengobatan, dari pengembangan obat sampai ke pengiriman harus dilakukan secara efisien.

http://www.voaindonesia.com/content/peluncuran_uji_coba_obat_tbc_baru_/110864.html

Peneliti AS Rancang Alat untuk Cegah Orang Mabuk Kendarai Mobil

Sekelompok peneliti Amerika sedang membuat sebuah alat yang berpotensi untuk mencegah orang yang sedang mabuk mengemudikan mobil.

Sean Jones, 37 tahun, meninggal dalam kecelakaan mobil pada tahun 2005. Ia adalah putra Bettye Jones. Sejak kecelakaan itu Bettye Jones selalu memajang foto puteranya di ruang tamu. “Ia suka bercerita dan bercanda,” kenang Jones tentang puteranya itu.

Kecelakaan terjadi ketika mobil Sean yang sedang berhenti di lampu lalu lintas ditabrak seorang pengemudi mabuk yang mengendarai mobilnya dengan kecepatan 140 kilometer per jam. Sean meninggal seketika dalam kecelakaan itu.

Hampir 11.000 orang meninggal setiap tahunnya akibat kecelakaan mobil, satu korban jiwa setiap 50 menit. Sejumlah aktivis pendukung gerakan pencegahan menyetir dalam keadaan mabuk mengatakan bahwa penyebaran informasi untuk meningkatkan kesadaran dan undang-undang yang diterapkan selama ini, belum banyak membuahkan hasil, sehingga mereka mengalihkan perhatiannya kepada sebuah peralatan canggih yang dibuat setelah insiden 9/11 untuk benar-benar menghentikan tindakan menyupir dalam keadaan mabuk.

Kini para peneliti sedang membuat dua alat pengaman yang tidak terlihat dan dapat dipasang di dalam mobil. Alat itu akan mendeteksi secara otomatis jika pengemudi baru saja minum minuman beralkohol.

Alat yang dipasang dekat posisi pengemudi itu mengunakan sensor infra merah yang dapat mendeteksi kadar alkohol si pengemudi saat ia bernafas. Alat lainnya yang dipasang di kemudi atau di dashboard akan dapat mendeteksi kadar  alkohol lewat sentuhan kulit si pengemudi. Jika kedua alat itu mendeteksi kadar alkohol  si pengemudi tersebut melampaui batas normal, maka secara otomatis, mesin mobil tidak dapat dinyalakan.

Jan Withers kehilangan putrinya yang meninggal dalam kecelakaan serupa beberapa tahun lalu. Ia berharap, melalui penyebaran informasi dapat ditingkatkan kesadaran para pengemudi akan bahaya mengemudi dalam keadaan mabuk.  Namun, usaha penyebaran informasi saja dirasa tidak cukup, karena  masih ada saja pengemudi yang mengendarai mobilnya dalam keadaan mabuk. Jan Withers kini mengetuai perhimpunan Mothers Against Drunk Driving. Menurut Withers, alat yang dapat dipasang pada mobil itu merupakan teknologi baru yang benar-benar dapat menghentikan tindakan mengemudi dalam keadaan mabuk.

“Undang-undang yang kita miliki saat ini, tidak menghentikan pengemudi menyupir dalam keadaan mabuk. Dengan teknologi canggih ini kami berharap, tidak akan ada lagi orang yang mengalami tragedi mengerikan itu,” paparnya.

Para peneliti mengatakan, mungkin akan perlu waktu satu dekade lagi untuk menyempurnakan alat yang merupakan hasil teknologi baru itu. Namun yang pasti, jika alat pengaman itu sudah siap digunakan, para aktivis itu berusaha agar perusahaan-perusahaan pembuat mobil memasang alat pengaman itu pada setiap mobil baru yang akan diproduksi.

sumber : http://www.voaindonesia.com/content/as_rancang_alat_untuk_cegah_orang_mabuk_menyupir/177247.html

Peneliti AS Temukan Pendekatan Baru untuk Obati Kanker Pankreas

Makalah penelitian yang menguraikan pendekatan baru untuk mengobati kanker pankreas ini dimuat dalam jurnal “Cancer Cell.”

Sejumlah pengobatan bagi banyak penyakit kanker semakin ampuh setelah bertahun-tahun, kecuali satu yaitu kanker pankreas.

Sunil Hingorani dari Pusat Penelitian Kanker di Seattle mengatakan,  “Kematian akibat kanker pankreas tergolong yang tertinggi dalam satu tahun pertama dan tahun kelima dibandingkan dengan kanker yang manapun juga.”

Lebih jauh, ia mengatakan bahwa hal ini merupakan teka-teki bagi para ilmuwan yang meneliti kanker pankreas. Obat-obat kemoterapi berkekuatan tinggi yang membunuh sel kanker pankreas di laboratorium hampir tidak berguna bagi pasien kanker.

Para ilmuwan mengamati bagaimana tumor di dalam pankreas melapisi dirinya dengan bahan kolagen mirip jaringan parut. Lapisan kolagen ini memberi tekanan pada pembuluh darah yang mengalirkan darah ke tumor, menghancurkan banyak pembuluh darah itu dan merintangi bukan hanya aliran darah, tetapi juga penyaluran obat kemoterapi.

“Jadi, dengan cara ini, tumor itu benar-benar mengisolasi diri dari peredaran darah, dan ketika kami hendak menyuntikkan obat-obat ini melalui pembuluh darah, obat-obat itu melewati saja tumor tersebut dan pergi ke tempat lain,” papar Hingorani.

Jadi, masalahnya mungkin bukan karena obat kemoterapi itu tidak mempan, tetapi hanya karena obat itu tidak mencapai sasarannya.

Untuk mengetahui jawabannya, Hingorani dan rekan-rekannya menggunakan tikus yang direkayasa secara genetika sebagai pengganti pasien manusia yang mengidap kanker pankreas. Mereka memberi tikus hasil rekayasa itu obat kemoterapi standar,gemcitabine, ditambah enzim PEGPH20 yang dirancang untuk membuka pembuluh darah yang amblas itu yang mengalirkan darah ke tumor tersebut.

Hingorani memaparkan, “Kami mendapati pada setiap hewan yang kami uji coba, tumornya mengecil atau, setidaknya, tidak bertambah besar. Kami mendapati bahwa secara menyeluruh kemungkinan untuk bertahan hidup meningkat sekitar 70 persen , tidak sampai dua kali lipat, tetapi sekitar itu.”

Tentu saja, apa yang berhasil pada tikus belum tentu berhasil pada manusia, oleh karena itu tim peneliti tersebut memulai uji coba pada manusia. Hingorani mengatakan optimistik, tetapi memperingatkan, akan diperlukan waktu satu atau dua tahun sebelum hasilnya tersedia dari uji coba pada manusia itu.

Namun, jika semua berjalan sesuai yang diharapkan oleh tim peneliti, kemoterapi ini tidak hanya akan lebih manjur, tetapi mungkin juga lebih kecil efek sampingnya yang buruk itu. Ini karena kalau lebih banyak obat yang mencapai tumor, para dokter mungkin dapat menggunakan obat-obat kemoterapi berkekuatan tinggi itu dalam jumlah kecil.

sumber : http://www.voaindonesian.com/content/ada_pendekatan_baru_untuk_obati_kanker_pankreas/110960.html

 

Obat Anti Kanker Palsu, Kembali Ditemukan di AS

Untuk kedua kalinya dalam dua bulan ini, versi palsu Avastin – obat anti kanker yang digunakan secara luas, telah ditemukan di Amerika.

Badan Pengawasan Obat dan Makanan Amerika FDA memperingatkan para dokter Selasa malam bahwa obat Avastin palsu itu tidak mengandung senyawa aktif yang digunakan untuk merawat kanker usus besar, paru-paru, ginjal dan otak.

Pusat pengawasan medis Inggris hari Rabu mengatakan perusahaan obat grosir berlisensi di Inggris membeli 120 paket obat-obatan palsu itu dari sebuah perusahaan Turki. Pusat Pengawasan Obat dan Makanan di Inggris itu mengatakan perusahaan Inggris tersebut telah mengirim 38 paket ke Amerika. Delapan puluh dua paket lainnya telah dijual kepada salah satu grosir Inggris lain, yang juga mengekspornya ke Amerika.

Semua obat itu telah diberi label sebagai Altuzan – versi Turki untuk “Avastin” – yang tidak diijinkan penggunaannya di Amerika. Sejauh ini belum ada laporan korban tewas akibat penggunaan obat palsu itu.

Bulan Februari lalu, FDA mengatakan paket Avastin palsu yang berbeda telah didistribusikan kepada para dokter di beberapa negara bagian. Pejabat-pejabat Eropa melacak pengiriman obat tersebut melalui beberapa negara, tetapi negara tempat asal obat palsu itu masih belum jelas. Perusahaan obat yang berkantor di Swiss – Roche – memproduksi Avastin yang asli, dengan total penjualan mencapai enam milyar dollar per tahun.

sumber : http://www.voaindonesian.com/content/article/164343.html