Surat Terbuka untuk Hakim Agung

Versi PDFVersi RTF

Surat Terbuka

Dari             :    dr.Patrianef SpB, SpB(K)V Bedah Vaskuler

Kepada      :    Hakim Agung Artijo Alkostar, Wamenkumham Deni Indrayana, Wakil Ketua MK Hakim Arif Hidayat, dan Ibu Ribka Ciptaning dkk

Assalamu’alaikum Wr. Wb. dan Salam hormat,

Perlu Kami sampaikan terlebih dahulu kepada Bapak-bapak yang mulia bahwa Kami ini adalah anak-anak Bangsa, Dokter Indonesia yang tidak pandai berpolitik, Kami tertinggal jauh di saat situasi seperti sekarang ini dimana survive seseorang ditentukan oleh kepiawaiannya berpolitik. Kami ini hanya anak-anak Bangsa yang tercerabut dari lingkungannya, diisolasi dari lingkungannya untuk mempelajari dunia kedokteran dengan tujuan yang katanya mulia untuk membantu anak-anak Bangsa yang lain.

Di saat rekan-rekan Kami sibuk berdiskusi sesamanya, Kami sibuk dengan dunia Kami. Kami sangat tergagap belajar dengan buku-buku tebal yang kami hadapi saat masuk kedokteran. Tergagap menengok tebal dan banyaknya buku. Di saat rekan Kami sibuk berpolitik Kami masih belajar keras, khawatir dengan ancaman Drop Out. Di saat orang lain tertidur Kami sibuk belajar. Akibatnya Kami seperti yang anda lihat sekarang, begitu bodoh dan tergagap saat menghadapi serangan bertubi-tubi dari dunia anda.

Kami bukanlah putra-putri terpilih Bangsa, bukan juga orang-orang yang mulia, tetapi Kami adalah orang-orang hasil produk yang anda bentuk, yang tahunya hanya bagaimana menghadapi pasien. Hari-hari Kami dipenuhi dengan pasien dari pagi sampai ke pagi berikutnya masih bercerita tentang pasien. Bapak-bapak Tidak perlu khawatir bahwa Kami saat ini berpolitik, Kami tidak punya waktu, tidak pandai dan terlalu lugu untuk berpolitik. Sesudah jadi Dokter hari-hari Kami diisi dengan menangani pasien. Dan putra-putra Bangsa yang sudah tidak pandai berpolitik tersebut dilemparkan jauh ke tengah daerah terpencil untuk melayani Bangsa dengan dalih wajib kerja sarjana. Banyak sarjana di Indonesia kenapa hanya Kami yang wajib pergi ke daerah terpencil.

Kami juga bukan orang yang kaya-kaya amat. Kami juga tidak punya peluang merugikan Negara. Kami tidak berurusan dengan uang di Rumah sakit. Di tengah sebagian pernyataan politisi ”Dokter jangan meminta uang muka di RS”, Kami bingung ini ketidaktahuan atau memang sengaja dibentuk untuk menggiring opini masyarakat bahwa Dokter berurusan dengan uang dan rakus. Urusan duit urusan Manajemen Rumah Sakit, Kami hanya pekerja medis yang berurusan dengan keselamatan pasien. Ada sedikit Dokter yang punya uang dan banyak juga yang hidup sederhana. Seperti banyak profesi lain juga. Tetapi lalu karena Kami Dokter, Kami juga tidak boleh punya rumah, Kami juga tidak boleh punya mobil?

Dan anda bentuk opini masyarakat dengan mengedepankan Dokter-Dokter yang hidup sederhana bergelut dengan pelayanan dasar di daerah kumuh, lalu anda menginginkan semua Dokter seperti itu. Inilah Dokter yang mulia tidak memerlukan duit dibayar recehan pun boleh. Pada hari lain anda menampilkan hal yang kontradiksi dengan menampilkan pelayanan kesehatan di Negara tetangga jauh lebih maju dan orang Indonesia yang kaya-kaya pergi berobat ke sana. Anda meminta tolong tingkatkan layanan kesehatan.

Saya punya seorang pasien Dokter yang dirawat di ruangan kelas tiga dengan kartu JKS dengan segala pernak pernik kemiskinannya. Apakah anda menginginkan begitulah wajah Dokter Indonesia. Selanjutnya anda akan masukkan Dokter dari luar negeri karena Dokter Indonesia kalah kwalitas.

Kami memang tidak punya banyak uang, Kami bekerja siang malam 24 jam, siap dipanggil dan bekerja 7 X 24 jam seminggu, Kami bekerja dengan nanah, feses, urine, dahak, darah. Kami terkena sinar radiasi yang merusak. Kami mungkin menghadapi anda dengan wajah letih, tahukah anda bahwa Kami tidak punya jam kerja, di tengah profesi lain yang bekerja 37.5 jam seminggu Kami bekerja 7 x 24 jam. Kami dihargai dengan hanya kalimat profesi mulia, dan Kami ditekan dengan sebutan tersebut untuk tidak menuntut banyak.

Opini masyarakat juga digiring dengan pernyataan Dokter sering melalaikan pasien. “Ya Allah, pasien yang mana yang Kami lalaikan”. Jika ada pasien yang terlantar di UGD karena tidak punya kartu dan tidak punya uang, sehingga tidak dilayani, apakah Kami yang disalahkan? Jika pemeriksaan laboratorium lama Kami juga yang dianggap lalai? Karena kamar operasi penuh Kami juga yang lalai? karena kamar rawat tidak ada, Kami juga yang salah? Kami tidak mengurus tetek bengek administrasi, itu urusan manajemen. Ada banyak profesi lain dalam menangani pasien, ada perawat, ada apoteker, ada radiografer, ada perawat laboratorium, ada perawat anestesi, ada akuntan, ada juru kereta dorong, ada kasir semuanya melayani pasien. Kelailaian bisa terjadi dimana saja. Keinginan seorang Dokter pasien harus segera dilayani itu yang mungkin tidak anda ketahui.

Kami sangat terkejut dengan hukuman yang anda timpakan kepada salah seorang anggota profesi Kami. Sangat tidak mungkin sebagai sesama profesional anda tidak tahu bagaimana menetapkan seseorang dalam lingkungan profesional. Sebagaimana Bapak hakim Agung Yang Mulia, anda juga seorang profesional, anda tidak bisa dihukum karena anda menjatuhkan hukuman kepada orang yang tidak bersalah. Mungkin seseorang sudah dihukum oleh hakim, Apakah Bapak Hakim Yang Mulia Ingat kasus Sengkon dan Karta? Lalu apakah hakim dihukum pidana karena itu. Untuk menentukan seorang hakim bersalah harus terlebih dahulu ditetapkan oleh Profesinya mungkin dengan membentuk majelis kehormatan, jika majelis kehormatan menentukan bersalah akan ditetapkan hukumannya.

Bahkan sebagaimana Bapak ketahui, jelas-jelas persoalan korupsi seperti hakim konstitusi, masih dibawa ke Majelis Kehormatan, yang ini tidak saya komentari mungkin itu karena Kami tidak mengerti makna mejelis kehormatan, atau memang ada proses pembodohan pada rakyat indonesia dari profesi yang katanya terhormat.

Kami saat ini benar-benar lelah Bapak hakim, anda tuduh Kami minta keistimewaan dari sisi hukum, anda tuduh Kami meminta kekebalan hukum. Saya betul-betul ingin tahu apakah itu pernyataan politik anda atau pernyataan karena ketidaktahuan anda. Jika anda tidak tahu, saya meragukan profesionalitas anda dari sisi hukum. Jika Kami berbuat pidana korupsi, mencuri, membunuh, memperkosa lalu Kami minta tidak dihukum karena Kami Dokter, itu baru namanya Kami minta kekebalan hukum.

Hakim Artijo Alkostar dan kawan kawan yang saya hormati, jika ada hakim yang membebaskan seseorang pada Pengadilan Negeri dan Pengadilan Tinggi, kemudian hakim lain menghukum pada Mahkamah Agung, artinya hakim pada Pengadilan Negeri dan Tinggi salah menghakimi apakah hakim tersebut akan anda hukum karena salah mengambil keputusan, tidak, kenapa?

Bapak-bapak yang Kami muliakan. Anda diberi kehormatan sebagai wakil Tuhan untuk menghukum seseorang bahkan mencabut nyawa seorang dengan hukuman mati. Oleh karena itu anda sangat dimuliakan dan dihormati, tidak ada yang lain yang mempunyai hak mencabut nyawa seseorang selain profesi hakim. Kami ditugasi sebaliknya yaitu mempertahankan nyawa seseorang semaksimal mungkin. Apakah dengan mempunyai tugas sebaliknya tersebut Kami kehilangan kemuliaan? Apakah di Negeri ini yang mulia itu adalah yang bisa merusak atau menghukum. Kami tidak menuntut kemuliaan dengan bisa memperbaiki, menyembuhkan karena itu semua adalah kuasa Allah SWT, Kami hanya makhluk sama seperrti anda sekalian yang mempunyai sedikit ilmu yang bisa digunakan untuk menolong sesama.

Bapak-bapak sekalian selama Kami berprofesi, Kami sangat sering menemui kegagalan, Kami sering menemui kematian. Lalu apakah akibat kematian tersebut Kami akan dihukum. Apakah hanya akibat selembar surat izin operasi Kami akan dihukum. Lalu jika ada diantara bapak atau kerabatnya yang mengalami kecelakaan diantar datang ke UGD dalam keadaan emergensi apakah Kami harus menunggu izin keluarga. Akan banyak kematian kematian di ruangan emergensi, dan mungkin nanti sebaliknya lagi Kami akan dihukum karena Kami melalaikan pasien.

Menurut Bapak Wakil Ketua MK Arief Hidayat penanganan yang dilakukan dokter terhadap pasien lebih mudah daripada pekerjaan montir. “Jadi, profesi montir itu lebih sulit daripada profesi dokter”. Memang Kami tidak sehebat montir yang menangani mobil-mobil mewah, pasien Kami sebagian besar rakyat miskin, yang mungkin hanya akan dihitung harganya jika akan ada pemilihan umum atau Pilkada atau Pilpres dan harganya paling juga berapa. Kami sangat sedih dengan pernyataan Bapak-bapak, saat Kami sudah jatuh, anda purukkan semakin dalam. Tolong jangan hina profesi Kami apapun argumennya. Apa Kami juga bisa menyatakan bahwa profesi montir lebih baik dari Hakim, pasti bapak akan tersinggung.

Saat ini anda bentuk opini bahwa Kami tidak boleh demo untuk menyatakan pendapat Kami, lalu dimana Kami harus menyatakan pembelaan diri Kami. Di saat semua saluran tertutup, Kami menggunakan hak konstitusional Kami, hak yang diakui secara internasional. Kami memang tidak punya kekuatan politis, secara politis Kami lemah, Kami tidak punya wakil yang benar-benar mewakili profesi Kami. Dari mahasiswa Kami sudah tidak pandai berpolitik. Kami menangis di depan istana Negara minta perhatian, Kami menangis didepan Mahkamah Agung minta keadilan, kenapa Kami dihujat karena melakukan hal tersebut. Lalu kepada siapa lagi Kami memohon. Kami tidak punya kekuatan, jumlah Kami tidak cukup besar, Kami juga tidak mampu dan tidak ingin membongkar pagar MA, Kami tidak demo dengan kekerasan. Kami hanya berteriak “ Oh Bapak Kami tolong dengar suara Kami”. Lalu apakah Kami salah karena ini. Apakah hak konstitusional Kami juga akan dihabisi. Kami hanya ingin minta diselamatkan, selamatkan Kami selamatkan Dokter Indonesia, selamatkan Bangsa ini, selamatkan negara ini. Ya Allah selamatkan Kami, selamatkan Bangsa Kami selamatkan negara Kami.

Versi PDFVersi RTF

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>