Ibadah Lintas Mazhab

JakartaTanya:
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Yth, Ustadz Quraish Shihab. Dalam beribadah seringkali saya mendengar adanya perbedaan mazhab dalam menjalankan ibadah. Pertanyaannya bolehkah kita beribadah mengikuti mazhab yang berlain-lainan atau mencari yang mana yang paling ringan untuk diikuti. Terima kasih banyak. Wassalam.

(Nanang)

Jawab:

Dewan Pakar : Prof Dr Quraish Shihab (Direktur Pusat Studi Al-Quran)

Hal yang wajib bagi umat Islam adalah mengikuti Allah swt dan Rasul-Nya. Allah swt telah menyampaikan kepada kita tuntunan-tuntunan-Nya dengan menurunkan kitab suci Alquran sambil menugaskan kepada Nabi Muhammad saw untuk menjelaskan apa telah diturunkan-Nya itu. Tidak semua orang dapat memahami secara langsung petunjuk-petunjuk tersebut, bukan saja karena banyak yang tidak memahami bahasa Alquran, tetapi juga karena banyak ayat dan hadits yang memerlukan analisis dan pendalaman yang untuk melakukannya dibutuhkan banyak syarat.

Dari sini, mereka yang memenuhi syarat-syarat itu tampil melakukan apa yang dinamai ijtihad dan hasil ijtihad mereka itulah yang dinamai mazhab.

Dengan demikian, mazhab pada hakikatnya adalah pemahaman terhadap firman Allah swt dan hadits Rasul saw. Pada saat seseorang mengikutinya, pada hakikatnya, dia tidak mengikuti seorang imam mazhab, tetapi dia mengikuti Allah swt dan Rasul-Nya sebagaimana dipahami oleh imam mazhab itu. Bagi siapa yang tidak mampu melakukan ijtihad, dia diharapkan melakukan pembahasan dan penilaian atau paling tidak memahami dalil dan alasan mengapa imam mazhab A berpendapat demikian dan imam mazhab B berpendapat berbeda.

Selanjutnya, dia memilih mana di antara kedua pendapat yang berbeda itu yang dinilainya memiliki dalil yang lebih kuat. Di sini, yang bersangkutan tidak bertaklid buta, tetapi mengikuti dengan kejelasan. Tentu saja, orang awam tidak dapat melakukan seperti yang telah diuraikan tadi. Tidak ada jalan lain untuk dia kecuali bertanya kepada yang mengetahui. Dia tidak harus bermazhab tertentu. Jawaban yang diberikan oleh ulama yang mempunyai mazhab atau yang mengikuti salah satu mazhab, itulah yang menjadi pegangan atau mazhabnya.

Kalau kali ini dia bertanya kepada seseorang yang bermazhab Syafi’i, tidak ada halangan esok dia bertanya kepada penganut mazhab Maliki.
Tidak ada halangan pula bagi dia jika ingin berpindah dari satu mazhab ke mazhab yang lain selama niatnya tulus untuk melaksanakan perintah Allah swt dan Rasul-Nya. Dalam istilah hukum Islam, ini dinamai talfiq.

Memang, ketika itu, dia tidak mempunyai pendirian. Ini karena dia tidak mengerti. Akan tetapi, itu ditoleransi walau sebaiknya pilihan yang diambilnya bukan semata-mata karena ingin kemudahan.

Demikian, wallhu a‘lam.

sumber : http://ramadan.detik.com/read/2012/07/18/083719/1967992/1254/ibadah-lintas-mazhab?992204cbr

 

2 Responses to Ibadah Lintas Mazhab

  1. luthfi says:

    sudah menambah pengetahuan saya,terimakasih banyak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>